Friday, July 24, 2015

Apakah kita diperintahkan menyembunyikan khithbah / lamaran?

5

"Sembunyikanlah Pinangan, Umumkanlah Pernikahan"

Sejak usia menjelang kepala dua, saat kawan-kawan sebaya satu persatu mulai menikah.. saya mendapati sebuah ‘fenomena’ diantara orang-orang yang sedang menuju pernikahan J. Fenomena yang saya maksud ini berkaitan dengan peminangan a.k.a lamaran alias khithbah atau apapun itu istilahnya, yaitu “merahasiakan pinangan”.

Mengenai merahasiakan pinangan ini, pertama kali saya temui dalam sebuah tausiyah kemuslimahan di kampus, yang saat itu disebutkan bahwa ada hadits yang berbunyi “Sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan”. Kalimat tersebut akhirnya berulang kali saya temui dari tautan (link) artikel yang dibagi oleh teman, artikel koran dan majalah, tulisan blog teman, twit seorang ustadz dengan banyak follower, dan tentunya dari orang-orang sekitar saya.

Seringnya menemui kalimat tersebut, serta seringnya menemui berbagai kejadian yang berhubungan dengan kerahasiaan pinangan membuat saya mencari tau mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Harap maklum, untuk urusan hadits di zaman yang arus informasinya sangat cepat ini, begitu mudahnya hadits-hadits palsu bertebaran, sehingga saya terkadang –kalau lagi rajin aja- memilih untuk menulisnya terlebih dahulu lalu mencari tau –walau sekedar gugling- mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Karena ternyata begitu banyak kisah yang sejak kecil kita sangka benar mengenai rasulullah serta para sahabat radhiyallahu ‘anhum ternyata dusta alias haditsnya palsu. Atau misalnya kita sebar berita yang ternyata haditsnya palsu, kan secara gak langsung kita ikutan berdusta atas nama rasulullah L duh serem.

Begitupula dengan hadits “sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” ini, saya sempatkan mencarinya di buku fiqh yang ada bab nikah serta googling di beberapa web yang membahas hadits maupun pernikahan sejak beberapa waktu lalu tapi baru kali ini saya sempatkan untuk menulisnya di blog *berlagak sibuk, dilempar sandal oleh pemirsa* :p

Berikut ini laporannya...

1. Pertama-tama, saya mencarinya di bulughul marom (edisi terjemah, penerbit al ma’arif, 1986). Pada bab nikah, saya tidak menemui hadits yang mengatakan “rahasiakanlah pinangan” atau semacamnya, tapi saya menemukan hadits yang memerintahkan “umumkanlah pernikahan”. Bunyinya:
“Dari Amir bin Abdulllah bin Zubair dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya rasulullah bersabda: “Beritakanlah perkawinan itu oleh kalian”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh al-Hakim.”
2.  Dalam Shahih Fiqih Wanita (Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Akbar Media, 2009). Pada bab nikah, saya menemukan hadits yang menyuruh untuk mengumumkan pernikahan, tapi tidak menemukan hadits yang menyuruh merahasiakan pinangan.
“Umumkanlah pernikahan” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 15697 dari hadits Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, dst *panjangnya catatan kaki keterangan hadits ini sehingga tidak saya tulis semua, maaf)
3.  Sulitnya mencari matan/kalimat hadits ini dalam bahasa Indonesia secara lengkap yang menyertakan hadits ini diriwayatkan oleh siapa, nomor berapa, dan statusnya bagaimana. Kalau kita googling, kita akan banyak menemukan tulisan-tulisan blog, kumpulan twit mengenai pernikahan, dll yang menyertakan kalimat “rahasiakanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” tapi semua tulisan itu tidak menyertakan sumbernya.
Ada beberapa tulisan yang menulis hadits tersebut adalah riwayat Ibnu Hibban nomor 1285, maka saya mencari hadits riwayat Ibnu Hibban nomor tersebut. Dan yang saya temui, hadits riwayat Ibnu Hibban 1285 berbunyi “umumkanlah pernikahan” dengan derajat hasan, kalimat hadits tersebut tidak mengandung “sembunyikanlah pinangan”

4. Saya mencoba mencarinya dalam bahasa inggris dengan kata kunci “hadith to hide engagement”, dan saya menemui link ini dan ini juga

5. Selanjutnya, saya coba mencari dalam kata kunci bahasa arab copas judul di link islamhouse sebelumnya, dan menemukan ini pada web ahlalhdeeth.
Isi dari link ini pada bagian awal membahas mengenai derajat hadits yang kalimatnya serupa tapi tak sama dengan yang saya cari, yaitu “Jelaskan/tunjukkanlah pernikahan, dan sembunyikanlah khithbah” namun pada bagian tengah hingga akhir tulisan link ahlalhdeeth ini sama seperti link pada nomor 4

Dari temuan-temuan tersebut, maka kesimpulan yang saya temukan dari hasil penelusuran adalah:

  1. hadits yang menyertakan “rahasiakanlah pernikahan” adalah hadits yang dinyatakan berderajat lemah (dho’if) sebagaimana dinyatakan oleh syaikh al-Albani (merujuk pada pernyataan di web ahlalhdeeth dan islamqa), sedangkan perintah “umumkanlah pernikahan” merupakan perintah yang berasal dari hadits yang berderajat Hasan
  2. mengumumkan acara peminangan adalah hal yang dibolehkan, karena dasar hukum untuk mu’amalah adalah semuanya boleh hingga ada dalil yang melarang, dan dalam hal pinangan ini tidak diketahui dalil syar’i yang melarang. Yang harus diperhatikan adalah, mengumumkan pinangan ini tetap harus mengikuti ketentuan agama sebagaimana walimah pernikahan (misal tidak campur baur yang bukan mahram, dll). Dengan mengumumkan peminangan juga bisa mengurangi probabilitas tingkat sakit hati orang yang berharap tapi gak kesampaian meminang/dipinang, yaa semacam ada persiapan atau gak ngarep gitu deh :D
  3. Menyembunyikan pinangan juga dibolehkan (karena tidak ada larangan) jika dikhawatirkan bisa timbul hasad atau khawatir adanya sihir akibat penyakit hati karena peminangan (merujuk pada ahlalhdeeth). Tapi yang perlu diingat adalah, jangan menganggap bahwa menyembunyikan pinangan ini adalah perintah atau keharusan dari Rasulullah ﷺ. 
  4. Ada juga beberapa orang yang memilih merahasiakan pinangan supaya gak di cie-cie-in *halah bahasa apa ini* atau digoda oleh teman-teman, karena digodain, diledekin, dan di-cie-cie-in itu bisa mengganggu keterjagaan hati antara pasangan yang telah terikat pinangan padahal mereka belum halal.. nah kalau untuk alasan ini, kayanya boleh juga nih.. asal jangan sampe bohong waktu ditanya udah khitbah atau belum aja :D
  5. Dalam hal mengumumkan peminangan atau merahasiakannya, kalau mau ngasih tau orang *atau para fans* bahwa dirinya taken –supaya para fans bisa lebih legowo menerima kenyataan- tapi juga gak siap untuk di cie-cie-in, bisa juga diambil jalan tengah: menyatakan diri sudah engaged atau taken tapi merahasiakan namanya, Cara ini pernah dipraktekkan oleh teman saya satu bulan sebelum beliau menyebar undangan pernikahan.. alasan beliau yaa itu tadi: supaya yang lain berhenti ngarep :D. Maklum, teman saya ini selebriti.
Lalu setelah mengetahui bahwa perintah menyembunyikan pinangan itu haditsnya lemah dan tidak meyakini itu sebagai perintah rasulullah ﷺ ketika memilih untuk merahasiakan pinangan, ada lagi yang harus kita latih nih: menghindari berdusta. Dalam beberapa kesempatan, saya menjumpai sekelompok orang yang sangat menjaga kerahasiaan status telah terpinang/meminang ataukah belum dirinya ataupun orang yang dikenalnya, sehingga orang lain sulit mengetahui status atau availability *halah, bahasanya* dari orang yang ditarget untuk dijadikan pasangan apakah available ataukah taken.

Saya bahkan beberapa kali menjumpai si A yang menanyakan kepada si B apakah si C available ataukah taken, lalu si B menjawab tidak tahu kepada si A, padahal tak lama setelah itu si C menyebar undangan dan diketahui bahwa si B adalah mediator dari si C dan pasangan dari awal hingga pernikahan dan si B ini tahu bahwa si C sudah taken ketika si A bertanya status si C… alasannya: “bukankah kita harus menjaga kerahasiaan pinangan?”. Sampai disini, menurut hemat saya, maka si B bisa kita katakan telah berbohong, dimana dusta macam ini tetaplah terhitung dusta: hati-hati bro bray, bisi dosa. Juga kejadian-kejadian lain semisal ngobrol sama teman tiap hari yang mengaku jomblo minta dicariin eh besoknya nyebar undangan. Cerita-cerita ini didasari oleh satu hal: keyakinan terhadap hadits merahasiakan pinangan.

Semoga berkenan, ditulis dari hati untuk pembaca

Allahu ta’ala a’lam

Tangerang, 7 Syawal 1436 H / 23 Juli 2015

Monday, July 13, 2015

Tegarlah :)

1

Saat hari-hari terasa berat, aku hanya berpikir tentang dua kemungkinan: Allah menginginkanku berupaya lebih gigih atau Allah mengingatkanku bahwa aku salah memilih..

إن مع العسر يسرا

Duhai jiwa yang lemah, semoga dirimu terus mendekat pada-Nya Yang Maha Kuat

Saturday, July 11, 2015

Takoyaki

0

Ramadhan beberapa hari lagi insyaa Allah usai. Sedih harus berpisah dengan ramadhan tapi bahagia menyambut idul fitri. Huhuhu.. ambigu (-_-").

Menu eksperimen di dapur kali ini masih featuring adik saya, Dinda, yang masih libur dari sekolah berasramanya. Kali ini kami membuat salah satu jajanan dari negeri sakura, Jepang, yang berbahan utama gurita/octopus. Daripada jajan di luar beli takoyaki kaan.. lebih ekonomis kalau bikin sendiri #ngirit

Bi Erna kemarin malam menelepon saya untuk mengambil cumi di rumahnya yang beliau dapat dari kenalannya "ada banyak bangeeet.. dinni ambil yaa" begitu katanya di telepon. Saat saya ke rumahnya, ternyata memang benar ada seplastik besar cumi di freezer yang membuat mata saya berbinar-binar. Akhirnya saya membawa pulang seplastik besar, dan saat saya cairkan di rumah.. saya baru menyadari bahwa satu plastik yang awalnya saya kira berisi cumi itu ternyata bercampur dengan gurita. Banyakan guritanya malah daripada cuminya, Alhamdulillah. Jadilah adik saya bilang, dibuat takoyaki saja guritanya.

Berhubung adik saya alergi cumi, udang, dan gurita.. akhirnya kami membuat dua versi dari takoyaki ini. Versi pertama adalah takoyaki sesungguhnya yang menggunakan gurita, sedangkan versi kedua adalah "takoyaki bohongan", karena gimana bisa disebut takoyaki (kue gurita) kalau gapake gurita? hahaha. Versi kedua untuk adik saya gurita nya diganti dengan sosis.

Untuk resep, saya adaptasi dari mbak Irene (speertinya member NCC juga, hehehe.. salam kenal dan terimakasih share resepnya ya mbak ^^) di link ini.

Bahan:
350 ml air
5 gram katsuobushi (saya ganti pakai nori karena gapunya dan gak nemu katsuobushi)
120 ml susu cair (saya pakai yang low fat :p, adanya di rumah cuma itu)
2 butir telur
150 gram terigu protein rendah
1 sendok teh baking powder (bisa di skip kalau ga suka bahan tambahan makanan)
1/2-1 sendok teh kaldu bubuk (saya skip, ga pernah make kaldu bubuk)
gurita yang sudah direbus dan dipotong kecil-kecil (yang saya gak direbus dulu, kelupaan :p), yang versi sosis tinggal ganti pakai sosis

untuk topping:
mayonaise, saus sambal/tomat, dan katsuobushi (lagi-lagi katsuobushi saya ganti pakai nori) secukupnya untuk taburan

cara membuat:
- air dan katsuobushi (atau nori) direbus sampai mendidih dengan api kecil, setelah mendidih lalu biarkan hingga 5 menit, matikan api, dinginkan dan saring.
- tuangkan susu cair, aduk rata
- tambahkan kaldu bubuk (saya lewat karena gak pakai)
- telur dikocok lepas, lalu dimasukkan kedalam campuran susu
- di wadah lain, aduk rata terigu dan baking powder
- tuang bahan cair campuran susu kedalam wadah terigu, aduk rata, lalu saring agar tidak ada terigu bergerindil
- siapkan cetakan takoyaki/poffertjes/telur bulat, panaskan dan olesi dengan margarin
- setelah panas, tuang adonan kedalam cetakan hingga penuh, beri gurita/sosis
- saat pinggiran sudah mulai terbentuk/mengeras, balik adonan. Kalau gak bulat, bisa ditambahkan lagi adonan kedalam cetakan setelah dibalik, lalu dibalik lagi.
-masak hingga matang dan agak kering bagian luarnya, lalu angkat
- hidangkan dengan cara ditata diatas piring, beri topping mayonaise dan saus, beri taburan katsuobushi/nori.

Tara....

Friday, July 3, 2015

Sepeda, silaturahmi, dan ukhuwah

2

Sejak udah gak nge-kost lagi, main sepeda jadi salah satu aktivitas yang terasa lebih ringan. Ya gimana gak lebih ringan, track bersepeda saya di sekitar kost (di Bandung) penuh dengan tanjakan curam berasa uphill dan downhill pakai folding bike, sekarang (di Tangerang) jadi jalan yang relatif datar, hehehe. Dengan track yang lebih mudah ini, destinasi dan durasi jalan-jalan pakai sepeda bisa jadi lebih bervariasi.

Selama sekitar sebulan ini, track favorit saya adalah jalan yang dulu sering saya lewati sewaktu kecil, misalnya jalan ke SD tempat saya dulu sekolah dan komplek perumahan di sekitarnya. Setiap melewati jalur ini, selalu ada memori yang terputar satu persatu membuat saya bernostalgia, hahaha. Sekolah saya dulu terletak di dalam komplek departemen kehakiman, berjarak sekitar 700-1000 m dari rumah, yang dulu biasa ditempuh naik becak, jalan kaki, atau bersepeda. Teman-teman SD mayoritas bertempat tinggal di komplek tersebut, hanya sedikit yang berasal dari luar komplek seperti saya.

Dalam perjalanan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya, ada banyak rumah teman-teman SD yang akan dilalui. Dulu sewaktu kecil, kakak saya kadang protes kalau jalan sama saya, capek menjawab sapaan katanya, karena sepanjang perjalanan itu biasanya selalu saja ada yang memanggil nama saya untuk menyapa, mulai dari ibu-ibu, teman sebaya, sampai bocah bocah cilik. Hahaha, udah bakat seleb waktu kecil, gimana dong ya? *kibas jilbab* *gak sadar diri, doh, lupakan, lupakan*

Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang *emangnya ini kisah avatar? Plak*. Saat ini, sudah banyak kondisi yang berbeda. Sudah banyak teman-teman yang pindah tempat tinggalnya. Kadang-kadang kalau lagi beruntung, saat bersepeda sore saya bertemu sama teman TK atau SD yang baru pulang kerja. Lain waktu, saya melewati teman SD yang anaknya udah dua, lalu berkata pada saya "anak gue udah dua, kenapa lu masih main sepeda aja?" Jyahahaha... iya juga sih. Di hari lain, saya mencoba berpikir keras mengingat-ingat orang yang saya lewati tadi itu teman TK saya atau bukan dan namanya siapa.

Pernah juga beberapa kali saya mencoba menelusuri dimana rumah beberapa guru yang dulu saya tau, tapi saya gagal menemukannya karena lingkungan di sekitar yang sudah sangat jauh berubah. Dan di suatu pagi, saya menyapa seorang bapak yang sedang jalan-jalan pagi mendorong stroller cucu nya, beliau adalah pemilik rumah yang pernah saya minta bunga sepatunya untuk tugas IPA karena saat itu saya lupa membawa bunga dari rumah, hahaha.

Dalam rangka jalan-jalan pakai sepeda ini pula, saya bisa mengunjungi rumah saudara-saudara. Dari kunjungan le rumah saudara yang sendtulnya hanya sekalian lewat inilah saya kadang pergi dengan bekal kosong, pulang bawa jinjingan makanan. Hikmah silaturahmi, dapat rejeki, hahaha (gak diniatin dapat jinjingan padahal). Yaah.. kegiatan bersepeda ini, anggap saja sebagai jalan-jalan sambil mempererat silaturahmi ke saudara dan menguatkan ukhuwah dengan kenalan lama. Menyelam sambil minum air, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. :p

Yuk gowes :D

Sunday, June 28, 2015

Antara saya dan setrika

2

Suatu hari saat saya lagi melihat-lihat newsfeed facebook, saya menemukan post menarik dari Teh Kiki Barkiah (alumni ITB, gak kenal di dunia nyata cuma tau dari grup ITBMotherhood, hehe), post beliau saat itu membahas tentang pekerjaan rumah yang buat saya butuh waktu dan konsentrasi tinggi buat dikerjain: Menyetrika pakaian. Hahaha.

Diantara kegiatan domestik (rumahan), saya gak merasa berat dengan yang lain kecuali setrika. Menyetrika pakaian di rumah ibu-bapak saya itu artinya berdiri selama menyetrika kaya upacara (soalnya pakai meja), mandi keringat (hawa dari setrikaan kali yaa.. hahaha), dan menyita waktu. Biar pun begitu, saya masih rajin setrika kok.. ;)

Nah, postingan teh Kiki tentang setrikaan ini menarik buat saya karena selama ini saya penasaran sama rahasia keren nya teh Kiki. Beliau adalah ibu muda beranak lebih dari 3 (klo ga salah ngitung sih 5), tinggal di USA bersama suami dan anak-anaknya, tanpa asisten rumah tangga, dan anak-anak beliau yang saya tau dididik dengan metode Home Schooling yang kurikulumnya beliau atur. Asli, melihat saudara-saudara saya mengasuh anak yang kurang dari 3 dan mengerjakan pekerjaan rumah tanpa asisten aja udah keren bangeeet.. itupun sesekali saudara-saudara saya terbantu dengan adanya kemungkinan mendapatkan bantuan dari keluarga, entah adik, sepupu, atau orangtua. Lah teh Kiki ini, jauh dari keluarga, jadi semua-mua dihandle beliau dan suaminya. Keren banget-banget-banget lah, maasyaa Allah. Makanya saya pengen tau gimana cara bliau alokasiin waktu untuk kegiatan superpadat ini, termasuk kapan nyetrika, hahaha. (Semoga Allah memudahkan urusan para ibu-ibu, aamiin)

Di postingan teh Kiki, beliau menyebutkan kalau saat itu sedang ada gerakan diantara emak blogger (pas saya baca postingan bliau maksudnya, udah agak lama), yang diberi nama Gerakan Tanpa Setrika. Beliau cerita bahwa sebelum nemu gerakan ini pun beliau sedikit-sedikit menerapkannya. Aha, terjawablah satu misteri tentang gimana teh Kiki menyetrika. Beliau mencuci di sebuah fasilitas pencucian baju umum (yg kaya di Mr. Bean gitu ya kayanya), selesai dari mesin cuci baju langsung dilipat rapi, kalau dijemur maka dijemur gantung rapi, dan begitu diangkat dari jemuran dilipat rapi. Hasilnya, kata beliau bajunya gak terlalu kusut bahkan cenderung rapi. Membaca cerita bliau, akhirnya saya gugling tentang GTS alias Gerakan Tanpa Setrika itu. GTS ini dicetuskan oleh seorang blogger bernama mbak Dwi dan banyak pendukungnya ternyata, hahaha. Tentu saja pendukung nomor satu adalah emak-emak. :D Well, siapa juga yang gamau punya me time atau kegiatan bermanfaat lain karena berhasil menyelesaikan setrikaan baju lebih cepat dari biasanya, kan? :p

Dan sekitar dua pekan lalu, saat saya sedang menyetrika pakaian di rumah, tante saya datang dan mengeluhkan soal setrikaan yang baginya seperti kisah yang tak berujung. Sambil menyetrika, saya bercerita tentang GTD ke tante saya berikut tips nya. Awalnya saya kira saya bakal kena marah atau di cap pemalas, tapi reaksi tante saya justru sebaliknya, bliau sumringah dan segera pulang ke rumahnya. Loh kok?!

Tiga hari yang lalu, lagi-lagi saat saya sedang menyetrika pakaian keluarga, tante saya datang dan berkata kegirangan,
"Aduh dini, kok masih nyetrika udah tahun 2015. Yang diaetrika sama tante sekarang yang lecek banget aja, kaos2 yg ga kusut gak disetrika, hemat listrik hemat waktu hemat tenaga, waktunya bisa dialihkan buat ngajarin anak-anak".

Mendengar kalimat tante saya, saya melirik ibu yang saat itu sedang merapikan meja makan. Ibu menatap saya dengan tatapan yang kira-kira bermakna "that's a big NO". Ahahaha, pengen rasanya saat itu bilang ke ibu "tenang bu, anak ibu masih rajin megang setrikaan, kan blom ada anak yang perlu diajarin" ;)

Yaah.. begitulah, urusan setrikaan dan GTS ini akhirnya seperti kasus problem-solving manajemen, dimana solusi yang satu belum tentu cocok untuk subjek yang berbeda :)) pengetahuan yang kita dapat pun mungkin tidak untuk menginspirasi kita, tetapi menginspirasi orang lain saat kita bercerita. GTS mungkin cocok buat sebagian orang, tapi buat ibu dan bapak saya, GTS adalah solusi yang sepertinya takan pernah diambil selama kami di rumah (kalo lagi jalan jalan mah kan beda cerita, hehehe).

Sekian dulu kisah setrikaannya, lain kali mungkin akan ada cerita soal pekerjaan domestik lainnya. Mohon maklum, itu kerjaan sehari-hari saya saat ini :)

Puyo - Silky Puding Green tea

0

Setelah sekian lama melihat resep silky puding yang disebut puyo di grup NCC dan melihat para member banyak yang me-remake resep ini, saya jadi tergoda buat ikutan bikin juga. Mumpung ada partner buat bereksperimen di dapur, adik saya.

Resep ini berasal dari Mbak Emma Retna, pemilik Dapur Bakulan Emma.
Kali ini saya coba pakai jelly rasa greentea.

Penting: puding hasil resep ini gak kokoh jadi gak bisa dikeluarkan dari cetakan. So, setelah matang, masukkan ke wadah-wadah siap makan seperti cup puding personal

Puyo Lava (14 cup kecil)
oleh Dapur Bakulan Emma

Bahan:

  • 1 bgks jelly aneka rasa... nutrijell ukuran 15gr yg biasa dipasaran * atau 8-10 gr jelly aneka rasa utk hasil puyo yang benar-benar lembut, langsung hancur dimulut
  • 1100 ml susu cair plain atau ganti separuhnya dengan susu kedelai siap pakai
  • 110 gr Gula pasir atau sesuai selera
  • 2 sdm maizena
  • 1 bgks vla instan (Myvla keluaran Nutrijell), kentalkan dengan 250 ml air panas
  • gelas kecil puding *jika menggunakan jelly plain, untuk aroma dan warna bisa meenggunakan essens dan pewarna makanan atau pasta makanan
Cara membuat:

  1. Tuang maizena dan tepung jelly ke dalam panci kosong n kering. Aduk biar tercampur. Tuang susu secukupnya. Aduk rata sampai tidak bergumpal
  2. Setelah tidak bergumpal masukkan sisa susu dan gula
  3. Masak diatas api sedang sambil terus diaduk sampai mendidih supaya susu tidak pecah dan tidak berkerak gosong dibagian bawah panci. Matikan kompor *Jika menggunakan nutrijell plain, masukkan essens dan pewarna makanan
  4. Isikan ke setengah bagian gelas puding kecil. *Jangan dicetak di cetakan besar, akan hancur karena bentuknya tidak kokoh
  5. Dinginkan sebentar di freezer sampai berselaput. Keluarkan
  6. Tuangkan 1 sdm vla instan diatas puding tadi
  7. Tuangkan kembali larutan puding diatasnya *jika sisa puding di panci mengental/mengeras. Encerkan kembali dengan api kecil
  8. Biarkan mengeras. Nikmat dimakan dingin
Daan.. ini hasil saya. Langsung ludes dimakansama saudara-saudara di musholla setelah tarawih. Alhamdulillah.

Martabak Telur Tahu

0

Postingan eksperimen dapur saya dan adik saya kali ini adalah jajanan antigagal. Disebut antigagal karena pada dasarnya siapapun bisa membuat yang satu ini. Segagal-galanya, paling hanya karena keasinan ;). Masih dalam rangka makanan berbuka puasa, dan Alhamdulillah ya, kali ini adik saya gak ngajakin bikin ini diisi sosis, hahaha.

Yup, kali ini kita bikin makanan yang gampang banget: Martabak Telur Tahu. Makanan ini merupakan varian dari martabak telur tapi dibuat menggunakan kulit lumpia yang sudah jadi dan tinggal beli di pasar atau swalayan, lalu isi dengan isian suka-suka, seperti telur, daging cincang, tahu, atau appaun lah semisal oncom buat penggemar oncom. :D

Untuk membuatnya, yang pertama harus disiapkan adalah: Niat! *ngikutin andre dan hesti di acara pagi-pagi*
Pada eksperimen kali ini, semuanya ditakar suka-suka, jadi kami gak ngasih patokan jumlah. Kemudian yang perlu disiapkan adalah.. bahan-bahannya berikut ini:

Bahan:
Kulit lumpia
Telur untuk isian
Tahu
Merica bubuk
Garam
Daun bawang

Telur untuk olesan (sedikit aja)

Cara membuat:
untuk membuat isi, iris halus daun bawang, masukkan ke wadah, masukkan tahu lalu hancurkan tahu, masukkan telur, merica, dan garam. Aduk rata. Isian yang baik itu tidak terlalu encer karena kebanyakan telur juga tidak terlalu padat karena kebanyakan tahu. Dikira-kira aja ya. ^^
ambil selembar kulit lumpia, letakkan isian di atasnya (sekitar 1,5 - 2 sendok makan cukup kira-kira), lalu lipat atau gulung.
Rekatkan bagian ujung kulit dengan olesan telur
Goreng dengan api kecil atau sedang hingga kuning keemasan, angkat, sajikan.

Gampang kan? Gampang kan? :D

Wednesday, June 24, 2015

Pertama di 2015 dan Kehidupan Pasca Kampus

3

Postingan tulisan pertama di 2015 setelah sebelumnya cuma share resep aja... *oi sadar dong udah bulan apa ini.... hahaha

Alhamdulillahirobbil'alamiin.. terhitung 9 Maret 2015 saya semi M.T (sidang) dan 27 Maret 2015 resmi M.T. (well, ini beban moral sebetulnya, hoho). Terimakasih banyak banyak banyaaaak untuk semua keluarga, saudara-saudari, guru-guru, dan teman-teman yang sudah mendoakan dan mendukung studi saya, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan kebaikan yang terbaik, aamiin.

Sejak awal Juni saya udah gak punya kost lagi di Bandung, jadi hijrah kembali ke rumah ortu dengan status pengacara alias pengangguran banyak acara. Disebut pengangguran karena secara resmi emang udah gapunya kerjaan, disebut banyak acara karena emang masih ada beberapa kegiatan yang menyita perhatian dan waktu *tsaaah, sok sibuk*.

Trus ngapain aja sekarang? Main sepeda, main sama sepupu dan keponakan yang bocil ucul, eksperimen di dapur, mantengin lowongan kerjaan, bantu-bantu kepanitiaan konferensi di kampus (makanya masih ngampus kadang-kadang), nyuci, nyapu, ngepel, nyetrika, nyiram tanaman, baca-baca *awas, pencitraan :p*, daaan... berkelana dari satu web univ ke web univ lainnya kalau lagi rindu kuliah (apa hubungannya? ada deeh..).

Overall, masa masa menjadi pengacara ini sebetulnya cukup menyenangkan, Alhamdulillah, kecuali bagian kalau lagi ketemu orang trus ditanya "kapan kerja? kapan punya calon?  kapan nikah? Kamu s2 karena mau jadi dosen ya? Nyari kerjanya terlalu milih gaji ya? Itu lowongan banyak masa gak ada yang sesuai?" dan sederet pertanyaan lainnya. Kalau lagi adem ayem dan ditanyainnya pakai cara yang adem sih pertanyaan-pertanyaan tadi itu insyaa Allah mudah jawabnya, tapi kadang ditanyanya pakai nada interogasi dan penuh judgement sampai kudu banyak-banyak istighfar biar gak nyolot jawabnya. Da saya teh manusia biasa, masih banyak keselnya :(

Kapan kerja?
Entah, saya udah mencoba mengirimkan aplikasi ke beberapa perusahaan tapi belum ada hasil, mungkin karena kualifikasi yang dicari bukan yg seperti saya, dan mungkin juga Allah punya rencana lain untuk saya selain kerja. ;)

Itu lowongan banyak masa gak ada yang di apply?
Adaaa, ada yang sudah berstatus applied, tapi emang nyari pekerjaan ini banyak faktornya dan tiap orang beda. Saya sendiri karena alasan pribadi dan orangtua, mencari kerjaan yang gak terlalu jauh dari domisili saya saat ini, yang kira-kira aman untuk aqidah saya, yang gak bikin khawatir ortu dan diridhoi lah pokoknya.

Kapan punya calon? Kapan nikah? Ah yang ini mah di skip aja, masih jadi rahasia Allah, bukan jatah saya buat jawab, hahaha.

Kamu s2 karena mau jadi dosen ya? Mmm.. buat sebagian orang di sekitar saya, orang yang kuliah sampai s2 itu PASTI mau jadi dosen, padahal saat ini jadi dosen itu kudu s3, karena s2 aja dinilai gak cukup sama pemerintah. Saya s2 karena kesempatannya ada, beasiswa, dan merasa masih pengen belajar, itu aja. Berujung jadi dosen, jadi pegawai, atau ibu rumah tangga.. saya sampai saat ini belum merasa itu sebuah masalah :)

Nyari kerjanya terlalu milih gaji ya? Enggaaaak.. seriously bukan karena milih-milih gaji. Buat saya, gaji itu yang penting sesuai dengan beban kerjaan. Yang dicari pertama dari sebuah pekerjaan adalah keberkahan, insyaa Allah *ustadz mode*. Saya cenderung menyukai pekerjaan yang masih memungkinkan saya punya waktu untuk keluarga, berkegiatan sosial, dan liburan. Soalnya, prinsipnya kerja itu sebagai salah satu ikhtiar menyambung hidup, untuk keluarga.. kalau kerja sampai ga ada waktu untuk yang dicinta kok rasanya sayang amat ya. Hidup itu singkat bro sist, haha :D

well.. happy fasting, Ramadhan kareem ^^

Monday, June 22, 2015

American Risoles a.k.a Risoles Sosis Keju (with Oat)

0

Sepertinya motto adik saya saat liburan panjang pulang dari asrama adalah tiada hari tanpa memasak. Sejak pulang ke rumah untuk libur kelulusan dari SMP yang diikuti libur panjang Ramadhan, adik saya hampir setiap hari merayu mengajak saya bikin makanan ini dan itu. Berhubung saat ini sedang bulan Ramadhan, jadi coba-coba di dapurnya dirubah menjadi sore menjelang buka puasa.

Kali ini bikin risoles karena terinspirasi dari salah satu tante saya, Bi Oom, yang punya bisnis kue dan sering membuat risoles enak tapi isinya sayuran. Berhubung di rumah ada sosis (adik saya hobi banget beli sosis dah ya kayanya --"), keju, dan wortel maka kami memutuskan untuk membuat risoles isi keju wortel sosis ala-ala risoles yang sekarang lagi booming dinamai American Risoles. Dinamai American Risoles sepertinya karena biasanya dibuat dengan isian seperti burger: beef burger, keju, dan sayuran/salad untuk burger dimana burger diidentikan dengan negeri paman sam itu. Padahal aslinya kata ibu-ibu di grup NCC yang tinggal di amerika, di amerika ga dikenal risoles khas sana. Hahahaha.

Untuk baluran krenyesnya, seharusnya pakai tepung roti atau breadcrumb. Berhubung di rumah gak ada dan bakal kesorean kalau beli dulu, akhirnya kami menganti breadcrumb dengan oat alias havermout instant yang biasa untuk bubur. Menurut sebagian orang, oat yang digoreng itu menyerap banyak minyak dibandingkan tepung roti dan sejenisnya sehingga tidak sehat. Makanya saya dan adik saya pun gak mau repot-repot mengklaim risoles buatan kami ini sebagai makanan sehat. :p *cariaman*

Oke, itu tadi Kitchen story behind the recipe (apaan dah). Inilah resepnya...

Risoles Sosis Keju balur Oat

Bahan Kulit Risoles:
*resep kulit saya adaptasi dari resepnya teh Ricke di link ini
100 gram terigu protein tinggi (tapi saya pakai terigu tak ber merk, jadi gatau jenisnya)
1/4 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
1 butir telur
300 ml susu cair
1/2 sendok makan margarin dilelehkan atau 1 sendok makan minyak goreng

isi:
isian sepertinya bebas suka-suka, untuk yang saya buat, isiannya speerti berikut,
sosis dipotong menjadi dua memanjang
keju cheddar potong memanjang
3 buah wortel, diparut panjang halus (seperti untuk asinan sayur)
1 siung bawang putih, geprek lalu cincang halus
1 siung bawang merah, iris halus
sedikit minyak untuk menumis
mayonaise

pelapis:
2 butir telur, dikocok lepas
tepung panir secukupnya (saya pakai oat instan)

cara membuat:
1. campur terigu, garam, dan merica bubuk dalam wadah, aduk rata. Buat lubang di tengah, masukkan terigu, aduk dengan sendok atau balloon whisk. Masukkan susu cair sambil diaduk agar merata dan tidak ada gumpalan/bergerindil. Jika ada adonan yang bergerindil dan susah dihaluskan, adonan bisa disaring. Masukkan margarin cair atau minyak goreng, aduk rata.
2. panaskan wajan untuk mendadar (yang anti lengket tentunya :D), tuang adonan untuk membuat dadar tipis-tipis. Diamkan sebentar hingga permukaan agak kering, angkat. Dan ulangi hingga semua adonan menjadi kulit risoles. (Tips: api kecil saja, kalau terlalu panas nanti kulitnya jadi gak mulus)
3. panaskan wajan, tumis bawang dan wortel hingga wortel layu. Matikan kompor, angkat tumisan.
4. Ambil selembar kulit risoles, letakkan sosis, keju, dan wortel diatasnya (ditata di satu sisi untuk digulung), tambahkan mayonaise secukupnya (kalau kebanyakan takutnya bocor, hehe). Lipat lalu gulung. Ulangi hingga habis.
5. Gulingkan risoles yang sudah digulung ke tepung panir/oat, lalu celup ke kocokan telur, dan kembali gulingkan ke tepung panir/oat.
6. Goreng dalam minyak panas hingga kuning kecoklatan. (Tips: api jangan besar-besar, nanti kulit cepat gosong). Angkat dan tiriskan. Lalu hidangkan.

Tips (lagi):
1. gunakan minyak yang masih bersih untuk mendapatkan risoles dengan warna kuning keemasan yang oke banget
2. supaya risoles gak pecah saat digoreng, pastikan risoles digulung rapat. Kalau perlu, rekatkan ujung gulungan kulit risoles dengan olesan telur. Dan saat digoreng, kalau risolesnya melendung (jadi buncit gitu maksudnya) tusuk dengan lidi kecil atau tusuk sate, untuk menghindari risoles pecah atau betus saat digoreng.

Selamat mencobaaa ^^

Wednesday, June 3, 2015

Cilok Kuah Cuko

0

Postingan kali ini tanpa resep yaa.. karena murni eksperiment dna cuma dicampur dari makanan sisa aja :)

Salah satu tante saya, Bi Elni (di keluarga saya tante itu dipanggil dengan sebutan bibi), lagi rajin eksperimen bikin pempek dengan cara cilok karena terpesona dengan cilok buatan saya dan adik saya beberapa hari lalu yang gak sempat difoto. Kata tante, cilok kami lembut kaya pempek, padahal bikinnya ngasal dan ga pake takaran, hahaha. Kemarin, tante saya bikin cilok lagi dengan ukuran jumbo dan ada sisanya di kulkas. Kebetulan di kulkas ibu saya sedang ada sisa cuko pempek dan di meja makan ada tahu dan tempe goreng, sehingga jadilah menu ini :D #gakmodal

sebelum-sebelum ini pun saya senang makan cireng, tahu, dan tempe pakai cuko pempek. Salah satu bumbu/saus ajaib yang ada di dunia ini bagi saya adalah sambal kacang/sambal lotek dan cuko pempek, karena bisa dipakai untuk menemani berbagai macam masakan.

so.. this is it! Ciloknya direbus sampai empuk, lalu masukkan kedalam cuko, tambahkan tahu dan tempe goreng.

Seblak

0

ynag ini posting dulu aja yak, resep kapan-kapan, mahakarya adik saya. Doi terpesona sama seblak sejak pertama kali saya kuliah di Bandung dan saya buatin, sekarang malah rajin bikin seblak denan kreasinya yang macem-macem. Di foto ini, seblaknya pakai kerupuk udang -asli- cirebon featuring opak aci dari tasik. as you can see, ukurannya gede-gede yak. Ini versi seblak kering, makanya gak berkuah, jadi kaya kwetiau goreng sih kata saya mah. :))

Saturday, April 11, 2015

Sup Jamur Brokoli Tahu (Vegan friendly)

0

menu makan siang kali ini adalah... Sup Jamur Brokoli Tahu. Dari namanya, kebayang kan isi sup ini apa aja? Yup! isian dari sup ini cuma tahu, brokoli, dan jamur, yang kali ini saya pakai jamur tiram. Cara membuatnya gampang banget kok :). Sup ini juga cocok untuk vegetarian karena tanpa daging hewan, dan buat anak kost yang merasa ribet atau kemahalan beli daging ayam.. resep kali ini oke banget karena kuah sup ini menggunakan kaldu jamur. :D

Sebelumnya saya baca-baca tentang kaldu jamur ini dari grup facebook NCC (grup ini bermanfaat dan informatif banget untuk urusan maska-masak), dan setelah dipelajari dari beberapa link ternyata inti pembuatannya adalah tumisan jamur dan bawang yang kemudian direbus. Jamur yang biasa digunakan adalah campuran shitake, merang dan champignon, tapi pada dasarnya semua jamur yang edible (bisa dimakan) bisa dibuat kaldu jamur ini. Orang-orang bilang kaldu jamur ini rasanya gak kalah gurih sama kaldu dari ayam atau sapi.. kalau kata saya sih, MAKNYUS!

Sup Jamur Brokoli Tahu
ala Dinni

Bahan:
1 kotak tahu putih besar, potong dadu
150 gram jamur merang, belah menjadi dua
50 gram jamur merang, belah-belah kecil
200 gram brokoli, potong kecil ukuran makan
1 batang daun bawang, iris
1 batang daun seledri, iris
2 siung bawang putih, haluskan
3 siung bawang merah, haluskan
1 liter air
garam dan merica secukupnya

Cara Membuat:

  1. tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum, lalu masukkan 50 gram jamur merang yang dipotong kecil. Tumis hingga jamur layu. (saya menumisnya di panci supaya gak banyak wadah terpakai)
  2. masukkan air kedalam tumisan (atau didihkan air lalu masukkan tumisan kalau menumisnya di wajan)
  3. rebus tumisan tadi hingga air sedikit berkurang
  4. masukkan brokoli, masak hingga brokoli setengah matang
  5. masukkan tahu, jamur, daun bawang, garam, dan merica
  6. cicipi rasa kuah hingga didapat rasa yang pas, lalu angkat dan sajikan

Wednesday, April 8, 2015

Rice Cooker Mac and Cheese

0

Hampir satu bulan jadi anak rumahan setelah wisuda, alhamdulillah :D
Siang-siang, di rumah, sendirian daaan.. lapar! Nengok kulkas ibu nemu makaroni, keju cheddar block, kaldu ayam sisa bikin sop, dan susu cair. Dari bahan-bahan ini, yang pertama kepikiran adalah Mac and Cheese yang belakangan ini gatau kenapa kayanya kok jadi ngehips di tempat-tempat kongkow anak muda dengan harga lumayan padahal bikinnya gampang dasar mahasiswa ekonomis gak mau rugi. Pas mau nyalain kompor kok ya gas nya abis. Jadi deh mempekerjakan rice cooker mini saya yang sudah diboyong dari kosan.

Jadiii.. inilah diaa.. *backsound tabuhan genderang* Rice Cooker Mac and Cheese!

Resep ini saya adaptasi dari sini

Bahan:

  • 200 gram pasta kering, (saya pakai makaroni biar pas namanya Mac and Cheese, tapi bolehjuga pakai pasta jenis lain)
  • 350 ml kaldu ayam (dibuat dari daging ayam yang direbus sampai airnya terbentuk kaldu)
  • 1 sendok teh garam
  • 250 ml susu cair (saya pakai full cream)
  • 200 gram keju, parut halus


Cara Membuat:

  1. Masukkan pasta, kaldu ayam, dan garam kedalam wadah rice cooker, masak selama kurang lebih 15 menit (kalau rice cookernya sudah ke mode warm/menghangatkan sebelum 15 menit atau sebelum matang, bisa ditekan lagi tombol untuk memasaknya)
  2. buka tutup rice cooker, tambahkan susu dan keju, aduk dengan spatula (jangan dengan sendok logam, nanti lapisan wadah rice cookernya rusak), masak kembali hingga 20 menit. (saya karena udah ga sabar jadi cuma 15 menit, hehe)
  3. Mac and Cheese, made with rice cooker
  4. Tadaaa... Mac and Cheese siap dimakan. Gampang kan? :)


Tepat saat saya mau makan, Ibu datang bawa Garang Asem, jadi deh Mac and Cheese ala saya ini dimakan bareng Garang Asem. Rasanya gimana? Enak-enak aja buat saya sih.. ini baru namanya East meet West. Hahahah.. Alhamdulillah
East meet West : Garang Asem dimakan bersama Mac and Cheese