Friday, January 8, 2016

Kesan Setelah Menonton Film Taare Zameen Par / Stars on Earth

0

Baiklah.. tanpa berpanjang-panjang di pembukaan, saya tau film ini dari FB Komunitas Ayah Edy.
untuk yang mau baca sinopsis filmnya ala saya silakan lanjutkan membaca ini berurutan. Untuk yang udah tau filmnya dan mau baca apa yang saya dapat setelah melihat film ini, bisa langsung klik link ini.

Tentang Filmnya..
Film Taare Zameen Par dirilis pada tahun 2007 di bioskop-bioskop India, dan DVD-nya dirilis pada 2008 di India, dan edisi DVD internasionalnya didistribusikan oleh Walt Disney pada 2009 lalu saya baru nonton di 2015, telat banget dong. Film ini disutradarai dan diproduseri oleh aktor-seleb Aamir Khan yang konon digandrungi para wanita (halah). Film bergenre family drama ini bercerita tentang model pendidikan anak sesuai kebutuhannya, karena Every Child is Special - Setiap anak itu istimewa.

Di film ini, tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki bernama Ishaan yang selalu mendapat nilai kecil di kelasnya. Ishaan duduk di kelas III sebuah sekolah berdisiplin tinggi dan ini adalah tahun keduanya di kelas tersebut (gak naik kelas). Ishaan tidak bisa membaca dan menulis, sulit mengikuti perintah, tidak pandai berhitung, sulit konsentrasi di kelas, dan rajin berimajinasi. Nilai-nilainya yang jelek, label dari orang-orang sekitar yang mengatakan dia bodoh, idiot, pemalas, dan sebagainya membuat ia malas sekolah, membolos, dan frustasi dalam belajar. Terlebih, kakak Ishaan adalah siswa pintar yang nilainya nyaris perfect. Ishaan hanya bagus dalam hal melukis dan bermain puzzle. Tapi Ishaan masih beruntung punya keluarga yang menyayanginya, terutama ibu dan kakaknya.

Suatu hari, Ishaan ketahuan membolos sekolah oleh orangtuanya dan berujung pada keputusan ayahnya untuk memasukkan ke sekolah berasrama dengan harapan Ishaan bisa menjadi anak yang disiplin dan tekun belajar. Namun, di sekolah berasrama yang disiplinnya lebih ketat dari sekolah sebelumnya ini, Ishaan tetap mendapat nilai jelek, tetap dilabeli bodoh dan pemalas, merasa dibuang oleh orangtua, dan kesemuanya itu membuat Ishaan frustasi sampai-sampai gak suka melukis.

Sebelum semuanya menjadi parah... sang jagoan datang. Jagoan di film ini berwujud guru seni bernama Mr, Nikumbh yang menyadari dasar masalah Ishaan. Mr. Nikumbh menyadari bahwa Ishaan bukan pemalas hingga tidak bisa membaca, tapi dia mengalami Dyslexia yang menyebabkan penderitanya sulit membaca dan menulis.  Untuk menyadarkan Ishaan dan teman-temannya, Mr, Nikumbh bercerita di kelas bahwa ada banyak sekali orang-orang yang dikenal sukses dan cerdas padahal orang tersebut mengalami kesulitan belajar membaca dan menulis sewaktu kecilnya. Berbekal pengalamannya pribadi sebagai penderita dyslexia dan pengalaman mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, Mr. Nikumbh melatih Ishaan dengan metode yang sesuai dan bisa dipahami oleh Ishaan hingga akhirnya Ishaan bisa membaca, menulis huruf-huruf tanpa tertukar, berhitung, mengikat tali sepatu, dan hal-hal lainnya.

Untuk membuka mata dan menyatukan pihak-pihak sekolah, Mr. Nikumbh membuat lomba melukis untuk semua civitas sekolah. Di awal perlombaan, Ishaan menghilang dari kamar asramanya dan baru datang di tengah perlombaan berlangsung. Ishaan kemudian melukis dengan kemampuannya yang luar biasa, hingga akhirnya terpilih sebagai juara 1 mengalahkan lukisan guru-guru dan teman-temannya. Lukisan Ishaan tersebut kemudian dipakai sebagai cover buku tahunan sekolah. Event itu -di film ga diceritain sih- mengubah pola pendidikan sekolah dari yang berorientasi nilai menjadi berorientasi proses. Saat bagi rapor, guru Ishaan menunjukkan hasil karya Ishaan dan memuji progress Ishaan yang sangat baik. Disitu, orangtua Ishaan menyadari bahwa anak mereka tidak bodoh, tidak idiot, dan tidak pemalas seperti apa yang orang-orang pikir selama ini. Lalu ceritanya selesai.

Nonton film ini, bikin saya mengingat masa SD dengan sedih. Waktu saya SD dulu, beberapa teman saya mengalami kesulitan belajar berupa susah konsentrasi di kelas, gak bisa baca, gak bisa nulis, sulit berhitung hingga beberapa diantaranya harus beberapa kali gak naik kelas. Yang lebih bikin sedihnya, mindset banyak orang saat itu adalah.. orang yang gak pinter matematika, udah SD belum bisa nulis dan baca, nakal di kelas (karena gabisa konsentrasi di kelas) itu di cap bodoh dan pemalas. Saat saya kecil dulu, ilmu parenting dan psikologi pendidikan belum berkembang seperti sekarang. Dulu belum ada ajaran untuk tidak melabeli anak-anak dengan sifat negatif. Dulu jarang banget orang paham tentang mendidik anak dominan otak kiri atau otak kanan. Dulu penyebaran informasi terbatas dan seminar parenting serta kawan-kawannya bisa dihitung jari. Dan saya... saya saat ini hanya bisa bersyukur karena Allah memudahkan masa kecil saya dengan kemampuan membaca, menulis, dan matematika yang baik. Meski waktu awal-awal masuk TK dan SD saya melihat semua bulatan pada huruf-huruf seperti huruf b, o, dan d itu perlu diwarnai, sehingga semua buku latihan menulis saya warna-warni :D

Menonton film ini juga semakin menguatkan apa yang selama ini saya yakini, bahwa tidak ada orang bodoh.. Yang ada hanyalah perbedaan bidang kemampuan, kesesuaian cara belajar, dan ketekunan. Karena si A yang tak pandai berhitung mungkin berbakat menonjol dalam olahraga. Si B yang di cap tak berbakat olahraga seperti ayahnya yang atlet, mungkin bakat istimewanya adalah menulis. Yup, setiap anak itu istimewa, every child is special, sehingga kita tidak bisa menggeneralisasi kemampuan mereka, even if they have the same biological parent and grow for 9 months in the same womb! Poin-poin nilai pengasuhan mungkin akan sama untuk setiap anak, tapi metodenya lah yang akhirnya berbeda.

Terakhir, bumi ini diciptakan dengan keanekaragaman. Tanaman ada pohon tinggi berkayu, ada semak belukar, hingga akhirnya rerumputan. Hewan diciptakan berbeda dari pemakan daging, pemakan tumbuhan, hingga pemakan apasaja. Begitupun manusia, Allah ciptakan dengan garis takdir yang beragam, dengan tugas beragam, dan "masa bakti"yang beragam. Kalau semua manusia jadi tentara, lalu siapa yang akan jadi dokternya? Kalau semua orang jadi pemeran layar kaca,lalu siapa yang akan jadi penontonnya? Iya toh?

Karena yang penting adalah menjadi manusia bermanfaat.

Salam hangat,
Dinni

Friday, July 24, 2015

Apakah kita diperintahkan menyembunyikan khithbah / lamaran?

5

"Sembunyikanlah Pinangan, Umumkanlah Pernikahan"

Sejak usia menjelang kepala dua, saat kawan-kawan sebaya satu persatu mulai menikah.. saya mendapati sebuah ‘fenomena’ diantara orang-orang yang sedang menuju pernikahan J. Fenomena yang saya maksud ini berkaitan dengan peminangan a.k.a lamaran alias khithbah atau apapun itu istilahnya, yaitu “merahasiakan pinangan”.

Mengenai merahasiakan pinangan ini, pertama kali saya temui dalam sebuah tausiyah kemuslimahan di kampus, yang saat itu disebutkan bahwa ada hadits yang berbunyi “Sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan”. Kalimat tersebut akhirnya berulang kali saya temui dari tautan (link) artikel yang dibagi oleh teman, artikel koran dan majalah, tulisan blog teman, twit seorang ustadz dengan banyak follower, dan tentunya dari orang-orang sekitar saya.

Seringnya menemui kalimat tersebut, serta seringnya menemui berbagai kejadian yang berhubungan dengan kerahasiaan pinangan membuat saya mencari tau mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Harap maklum, untuk urusan hadits di zaman yang arus informasinya sangat cepat ini, begitu mudahnya hadits-hadits palsu bertebaran, sehingga saya terkadang –kalau lagi rajin aja- memilih untuk menulisnya terlebih dahulu lalu mencari tau –walau sekedar gugling- mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Karena ternyata begitu banyak kisah yang sejak kecil kita sangka benar mengenai rasulullah serta para sahabat radhiyallahu ‘anhum ternyata dusta alias haditsnya palsu. Atau misalnya kita sebar berita yang ternyata haditsnya palsu, kan secara gak langsung kita ikutan berdusta atas nama rasulullah L duh serem.

Begitupula dengan hadits “sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” ini, saya sempatkan mencarinya di buku fiqh yang ada bab nikah serta googling di beberapa web yang membahas hadits maupun pernikahan sejak beberapa waktu lalu tapi baru kali ini saya sempatkan untuk menulisnya di blog *berlagak sibuk, dilempar sandal oleh pemirsa* :p

Berikut ini laporannya...

1. Pertama-tama, saya mencarinya di bulughul marom (edisi terjemah, penerbit al ma’arif, 1986). Pada bab nikah, saya tidak menemui hadits yang mengatakan “rahasiakanlah pinangan” atau semacamnya, tapi saya menemukan hadits yang memerintahkan “umumkanlah pernikahan”. Bunyinya:
“Dari Amir bin Abdulllah bin Zubair dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya rasulullah bersabda: “Beritakanlah perkawinan itu oleh kalian”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh al-Hakim.”
2.  Dalam Shahih Fiqih Wanita (Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Akbar Media, 2009). Pada bab nikah, saya menemukan hadits yang menyuruh untuk mengumumkan pernikahan, tapi tidak menemukan hadits yang menyuruh merahasiakan pinangan.
“Umumkanlah pernikahan” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 15697 dari hadits Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, dst *panjangnya catatan kaki keterangan hadits ini sehingga tidak saya tulis semua, maaf)
3.  Sulitnya mencari matan/kalimat hadits ini dalam bahasa Indonesia secara lengkap yang menyertakan hadits ini diriwayatkan oleh siapa, nomor berapa, dan statusnya bagaimana. Kalau kita googling, kita akan banyak menemukan tulisan-tulisan blog, kumpulan twit mengenai pernikahan, dll yang menyertakan kalimat “rahasiakanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” tapi semua tulisan itu tidak menyertakan sumbernya.
Ada beberapa tulisan yang menulis hadits tersebut adalah riwayat Ibnu Hibban nomor 1285, maka saya mencari hadits riwayat Ibnu Hibban nomor tersebut. Dan yang saya temui, hadits riwayat Ibnu Hibban 1285 berbunyi “umumkanlah pernikahan” dengan derajat hasan, kalimat hadits tersebut tidak mengandung “sembunyikanlah pinangan”

4. Saya mencoba mencarinya dalam bahasa inggris dengan kata kunci “hadith to hide engagement”, dan saya menemui link ini dan ini juga

5. Selanjutnya, saya coba mencari dalam kata kunci bahasa arab copas judul di link islamhouse sebelumnya, dan menemukan ini pada web ahlalhdeeth.
Isi dari link ini pada bagian awal membahas mengenai derajat hadits yang kalimatnya serupa tapi tak sama dengan yang saya cari, yaitu “Jelaskan/tunjukkanlah pernikahan, dan sembunyikanlah khithbah” namun pada bagian tengah hingga akhir tulisan link ahlalhdeeth ini sama seperti link pada nomor 4

Dari temuan-temuan tersebut, maka kesimpulan yang saya temukan dari hasil penelusuran adalah:

  1. hadits yang menyertakan “rahasiakanlah pernikahan” adalah hadits yang dinyatakan berderajat lemah (dho’if) sebagaimana dinyatakan oleh syaikh al-Albani (merujuk pada pernyataan di web ahlalhdeeth dan islamqa), sedangkan perintah “umumkanlah pernikahan” merupakan perintah yang berasal dari hadits yang berderajat Hasan
  2. mengumumkan acara peminangan adalah hal yang dibolehkan, karena dasar hukum untuk mu’amalah adalah semuanya boleh hingga ada dalil yang melarang, dan dalam hal pinangan ini tidak diketahui dalil syar’i yang melarang. Yang harus diperhatikan adalah, mengumumkan pinangan ini tetap harus mengikuti ketentuan agama sebagaimana walimah pernikahan (misal tidak campur baur yang bukan mahram, dll). Dengan mengumumkan peminangan juga bisa mengurangi probabilitas tingkat sakit hati orang yang berharap tapi gak kesampaian meminang/dipinang, yaa semacam ada persiapan atau gak ngarep gitu deh :D
  3. Menyembunyikan pinangan juga dibolehkan (karena tidak ada larangan) jika dikhawatirkan bisa timbul hasad atau khawatir adanya sihir akibat penyakit hati karena peminangan (merujuk pada ahlalhdeeth). Tapi yang perlu diingat adalah, jangan menganggap bahwa menyembunyikan pinangan ini adalah perintah atau keharusan dari Rasulullah ﷺ. 
  4. Ada juga beberapa orang yang memilih merahasiakan pinangan supaya gak di cie-cie-in *halah bahasa apa ini* atau digoda oleh teman-teman, karena digodain, diledekin, dan di-cie-cie-in itu bisa mengganggu keterjagaan hati antara pasangan yang telah terikat pinangan padahal mereka belum halal.. nah kalau untuk alasan ini, kayanya boleh juga nih.. asal jangan sampe bohong waktu ditanya udah khitbah atau belum aja :D
  5. Dalam hal mengumumkan peminangan atau merahasiakannya, kalau mau ngasih tau orang *atau para fans* bahwa dirinya taken –supaya para fans bisa lebih legowo menerima kenyataan- tapi juga gak siap untuk di cie-cie-in, bisa juga diambil jalan tengah: menyatakan diri sudah engaged atau taken tapi merahasiakan namanya, Cara ini pernah dipraktekkan oleh teman saya satu bulan sebelum beliau menyebar undangan pernikahan.. alasan beliau yaa itu tadi: supaya yang lain berhenti ngarep :D. Maklum, teman saya ini selebriti.
Lalu setelah mengetahui bahwa perintah menyembunyikan pinangan itu haditsnya lemah dan tidak meyakini itu sebagai perintah rasulullah ﷺ ketika memilih untuk merahasiakan pinangan, ada lagi yang harus kita latih nih: menghindari berdusta. Dalam beberapa kesempatan, saya menjumpai sekelompok orang yang sangat menjaga kerahasiaan status telah terpinang/meminang ataukah belum dirinya ataupun orang yang dikenalnya, sehingga orang lain sulit mengetahui status atau availability *halah, bahasanya* dari orang yang ditarget untuk dijadikan pasangan apakah available ataukah taken.

Saya bahkan beberapa kali menjumpai si A yang menanyakan kepada si B apakah si C available ataukah taken, lalu si B menjawab tidak tahu kepada si A, padahal tak lama setelah itu si C menyebar undangan dan diketahui bahwa si B adalah mediator dari si C dan pasangan dari awal hingga pernikahan dan si B ini tahu bahwa si C sudah taken ketika si A bertanya status si C… alasannya: “bukankah kita harus menjaga kerahasiaan pinangan?”. Sampai disini, menurut hemat saya, maka si B bisa kita katakan telah berbohong, dimana dusta macam ini tetaplah terhitung dusta: hati-hati bro bray, bisi dosa. Juga kejadian-kejadian lain semisal ngobrol sama teman tiap hari yang mengaku jomblo minta dicariin eh besoknya nyebar undangan. Cerita-cerita ini didasari oleh satu hal: keyakinan terhadap hadits merahasiakan pinangan.

Semoga berkenan, ditulis dari hati untuk pembaca

Allahu ta’ala a’lam

Tangerang, 7 Syawal 1436 H / 23 Juli 2015

Monday, July 13, 2015

Tegarlah :)

1

Saat hari-hari terasa berat, aku hanya berpikir tentang dua kemungkinan: Allah menginginkanku berupaya lebih gigih atau Allah mengingatkanku bahwa aku salah memilih..

إن مع العسر يسرا

Duhai jiwa yang lemah, semoga dirimu terus mendekat pada-Nya Yang Maha Kuat

Saturday, July 11, 2015

Takoyaki

0

Ramadhan beberapa hari lagi insyaa Allah usai. Sedih harus berpisah dengan ramadhan tapi bahagia menyambut idul fitri. Huhuhu.. ambigu (-_-").

Menu eksperimen di dapur kali ini masih featuring adik saya, Dinda, yang masih libur dari sekolah berasramanya. Kali ini kami membuat salah satu jajanan dari negeri sakura, Jepang, yang berbahan utama gurita/octopus. Daripada jajan di luar beli takoyaki kaan.. lebih ekonomis kalau bikin sendiri #ngirit

Bi Erna kemarin malam menelepon saya untuk mengambil cumi di rumahnya yang beliau dapat dari kenalannya "ada banyak bangeeet.. dinni ambil yaa" begitu katanya di telepon. Saat saya ke rumahnya, ternyata memang benar ada seplastik besar cumi di freezer yang membuat mata saya berbinar-binar. Akhirnya saya membawa pulang seplastik besar, dan saat saya cairkan di rumah.. saya baru menyadari bahwa satu plastik yang awalnya saya kira berisi cumi itu ternyata bercampur dengan gurita. Banyakan guritanya malah daripada cuminya, Alhamdulillah. Jadilah adik saya bilang, dibuat takoyaki saja guritanya.

Berhubung adik saya alergi cumi, udang, dan gurita.. akhirnya kami membuat dua versi dari takoyaki ini. Versi pertama adalah takoyaki sesungguhnya yang menggunakan gurita, sedangkan versi kedua adalah "takoyaki bohongan", karena gimana bisa disebut takoyaki (kue gurita) kalau gapake gurita? hahaha. Versi kedua untuk adik saya gurita nya diganti dengan sosis.

Untuk resep, saya adaptasi dari mbak Irene (speertinya member NCC juga, hehehe.. salam kenal dan terimakasih share resepnya ya mbak ^^) di link ini.

Bahan:
350 ml air
5 gram katsuobushi (saya ganti pakai nori karena gapunya dan gak nemu katsuobushi)
120 ml susu cair (saya pakai yang low fat :p, adanya di rumah cuma itu)
2 butir telur
150 gram terigu protein rendah
1 sendok teh baking powder (bisa di skip kalau ga suka bahan tambahan makanan)
1/2-1 sendok teh kaldu bubuk (saya skip, ga pernah make kaldu bubuk)
gurita yang sudah direbus dan dipotong kecil-kecil (yang saya gak direbus dulu, kelupaan :p), yang versi sosis tinggal ganti pakai sosis

untuk topping:
mayonaise, saus sambal/tomat, dan katsuobushi (lagi-lagi katsuobushi saya ganti pakai nori) secukupnya untuk taburan

cara membuat:
- air dan katsuobushi (atau nori) direbus sampai mendidih dengan api kecil, setelah mendidih lalu biarkan hingga 5 menit, matikan api, dinginkan dan saring.
- tuangkan susu cair, aduk rata
- tambahkan kaldu bubuk (saya lewat karena gak pakai)
- telur dikocok lepas, lalu dimasukkan kedalam campuran susu
- di wadah lain, aduk rata terigu dan baking powder
- tuang bahan cair campuran susu kedalam wadah terigu, aduk rata, lalu saring agar tidak ada terigu bergerindil
- siapkan cetakan takoyaki/poffertjes/telur bulat, panaskan dan olesi dengan margarin
- setelah panas, tuang adonan kedalam cetakan hingga penuh, beri gurita/sosis
- saat pinggiran sudah mulai terbentuk/mengeras, balik adonan. Kalau gak bulat, bisa ditambahkan lagi adonan kedalam cetakan setelah dibalik, lalu dibalik lagi.
-masak hingga matang dan agak kering bagian luarnya, lalu angkat
- hidangkan dengan cara ditata diatas piring, beri topping mayonaise dan saus, beri taburan katsuobushi/nori.

Tara....

Friday, July 3, 2015

Sepeda, silaturahmi, dan ukhuwah

2

Sejak udah gak nge-kost lagi, main sepeda jadi salah satu aktivitas yang terasa lebih ringan. Ya gimana gak lebih ringan, track bersepeda saya di sekitar kost (di Bandung) penuh dengan tanjakan curam berasa uphill dan downhill pakai folding bike, sekarang (di Tangerang) jadi jalan yang relatif datar, hehehe. Dengan track yang lebih mudah ini, destinasi dan durasi jalan-jalan pakai sepeda bisa jadi lebih bervariasi.

Selama sekitar sebulan ini, track favorit saya adalah jalan yang dulu sering saya lewati sewaktu kecil, misalnya jalan ke SD tempat saya dulu sekolah dan komplek perumahan di sekitarnya. Setiap melewati jalur ini, selalu ada memori yang terputar satu persatu membuat saya bernostalgia, hahaha. Sekolah saya dulu terletak di dalam komplek departemen kehakiman, berjarak sekitar 700-1000 m dari rumah, yang dulu biasa ditempuh naik becak, jalan kaki, atau bersepeda. Teman-teman SD mayoritas bertempat tinggal di komplek tersebut, hanya sedikit yang berasal dari luar komplek seperti saya.

Dalam perjalanan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya, ada banyak rumah teman-teman SD yang akan dilalui. Dulu sewaktu kecil, kakak saya kadang protes kalau jalan sama saya, capek menjawab sapaan katanya, karena sepanjang perjalanan itu biasanya selalu saja ada yang memanggil nama saya untuk menyapa, mulai dari ibu-ibu, teman sebaya, sampai bocah bocah cilik. Hahaha, udah bakat seleb waktu kecil, gimana dong ya? *kibas jilbab* *gak sadar diri, doh, lupakan, lupakan*

Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang *emangnya ini kisah avatar? Plak*. Saat ini, sudah banyak kondisi yang berbeda. Sudah banyak teman-teman yang pindah tempat tinggalnya. Kadang-kadang kalau lagi beruntung, saat bersepeda sore saya bertemu sama teman TK atau SD yang baru pulang kerja. Lain waktu, saya melewati teman SD yang anaknya udah dua, lalu berkata pada saya "anak gue udah dua, kenapa lu masih main sepeda aja?" Jyahahaha... iya juga sih. Di hari lain, saya mencoba berpikir keras mengingat-ingat orang yang saya lewati tadi itu teman TK saya atau bukan dan namanya siapa.

Pernah juga beberapa kali saya mencoba menelusuri dimana rumah beberapa guru yang dulu saya tau, tapi saya gagal menemukannya karena lingkungan di sekitar yang sudah sangat jauh berubah. Dan di suatu pagi, saya menyapa seorang bapak yang sedang jalan-jalan pagi mendorong stroller cucu nya, beliau adalah pemilik rumah yang pernah saya minta bunga sepatunya untuk tugas IPA karena saat itu saya lupa membawa bunga dari rumah, hahaha.

Dalam rangka jalan-jalan pakai sepeda ini pula, saya bisa mengunjungi rumah saudara-saudara. Dari kunjungan le rumah saudara yang sendtulnya hanya sekalian lewat inilah saya kadang pergi dengan bekal kosong, pulang bawa jinjingan makanan. Hikmah silaturahmi, dapat rejeki, hahaha (gak diniatin dapat jinjingan padahal). Yaah.. kegiatan bersepeda ini, anggap saja sebagai jalan-jalan sambil mempererat silaturahmi ke saudara dan menguatkan ukhuwah dengan kenalan lama. Menyelam sambil minum air, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. :p

Yuk gowes :D

Sunday, June 28, 2015

Antara saya dan setrika

2

Suatu hari saat saya lagi melihat-lihat newsfeed facebook, saya menemukan post menarik dari Teh Kiki Barkiah (alumni ITB, gak kenal di dunia nyata cuma tau dari grup ITBMotherhood, hehe), post beliau saat itu membahas tentang pekerjaan rumah yang buat saya butuh waktu dan konsentrasi tinggi buat dikerjain: Menyetrika pakaian. Hahaha.

Diantara kegiatan domestik (rumahan), saya gak merasa berat dengan yang lain kecuali setrika. Menyetrika pakaian di rumah ibu-bapak saya itu artinya berdiri selama menyetrika kaya upacara (soalnya pakai meja), mandi keringat (hawa dari setrikaan kali yaa.. hahaha), dan menyita waktu. Biar pun begitu, saya masih rajin setrika kok.. ;)

Nah, postingan teh Kiki tentang setrikaan ini menarik buat saya karena selama ini saya penasaran sama rahasia keren nya teh Kiki. Beliau adalah ibu muda beranak lebih dari 3 (klo ga salah ngitung sih 5), tinggal di USA bersama suami dan anak-anaknya, tanpa asisten rumah tangga, dan anak-anak beliau yang saya tau dididik dengan metode Home Schooling yang kurikulumnya beliau atur. Asli, melihat saudara-saudara saya mengasuh anak yang kurang dari 3 dan mengerjakan pekerjaan rumah tanpa asisten aja udah keren bangeeet.. itupun sesekali saudara-saudara saya terbantu dengan adanya kemungkinan mendapatkan bantuan dari keluarga, entah adik, sepupu, atau orangtua. Lah teh Kiki ini, jauh dari keluarga, jadi semua-mua dihandle beliau dan suaminya. Keren banget-banget-banget lah, maasyaa Allah. Makanya saya pengen tau gimana cara bliau alokasiin waktu untuk kegiatan superpadat ini, termasuk kapan nyetrika, hahaha. (Semoga Allah memudahkan urusan para ibu-ibu, aamiin)

Di postingan teh Kiki, beliau menyebutkan kalau saat itu sedang ada gerakan diantara emak blogger (pas saya baca postingan bliau maksudnya, udah agak lama), yang diberi nama Gerakan Tanpa Setrika. Beliau cerita bahwa sebelum nemu gerakan ini pun beliau sedikit-sedikit menerapkannya. Aha, terjawablah satu misteri tentang gimana teh Kiki menyetrika. Beliau mencuci di sebuah fasilitas pencucian baju umum (yg kaya di Mr. Bean gitu ya kayanya), selesai dari mesin cuci baju langsung dilipat rapi, kalau dijemur maka dijemur gantung rapi, dan begitu diangkat dari jemuran dilipat rapi. Hasilnya, kata beliau bajunya gak terlalu kusut bahkan cenderung rapi. Membaca cerita bliau, akhirnya saya gugling tentang GTS alias Gerakan Tanpa Setrika itu. GTS ini dicetuskan oleh seorang blogger bernama mbak Dwi dan banyak pendukungnya ternyata, hahaha. Tentu saja pendukung nomor satu adalah emak-emak. :D Well, siapa juga yang gamau punya me time atau kegiatan bermanfaat lain karena berhasil menyelesaikan setrikaan baju lebih cepat dari biasanya, kan? :p

Dan sekitar dua pekan lalu, saat saya sedang menyetrika pakaian di rumah, tante saya datang dan mengeluhkan soal setrikaan yang baginya seperti kisah yang tak berujung. Sambil menyetrika, saya bercerita tentang GTD ke tante saya berikut tips nya. Awalnya saya kira saya bakal kena marah atau di cap pemalas, tapi reaksi tante saya justru sebaliknya, bliau sumringah dan segera pulang ke rumahnya. Loh kok?!

Tiga hari yang lalu, lagi-lagi saat saya sedang menyetrika pakaian keluarga, tante saya datang dan berkata kegirangan,
"Aduh dini, kok masih nyetrika udah tahun 2015. Yang diaetrika sama tante sekarang yang lecek banget aja, kaos2 yg ga kusut gak disetrika, hemat listrik hemat waktu hemat tenaga, waktunya bisa dialihkan buat ngajarin anak-anak".

Mendengar kalimat tante saya, saya melirik ibu yang saat itu sedang merapikan meja makan. Ibu menatap saya dengan tatapan yang kira-kira bermakna "that's a big NO". Ahahaha, pengen rasanya saat itu bilang ke ibu "tenang bu, anak ibu masih rajin megang setrikaan, kan blom ada anak yang perlu diajarin" ;)

Yaah.. begitulah, urusan setrikaan dan GTS ini akhirnya seperti kasus problem-solving manajemen, dimana solusi yang satu belum tentu cocok untuk subjek yang berbeda :)) pengetahuan yang kita dapat pun mungkin tidak untuk menginspirasi kita, tetapi menginspirasi orang lain saat kita bercerita. GTS mungkin cocok buat sebagian orang, tapi buat ibu dan bapak saya, GTS adalah solusi yang sepertinya takan pernah diambil selama kami di rumah (kalo lagi jalan jalan mah kan beda cerita, hehehe).

Sekian dulu kisah setrikaannya, lain kali mungkin akan ada cerita soal pekerjaan domestik lainnya. Mohon maklum, itu kerjaan sehari-hari saya saat ini :)