Friday, April 9, 2010

Hikmah Mengejar Damri

0

2 April tanggal merah! Jadi, mudiklah saya dari tempat saya indekost dan kampus saya di Bandung ke rumah ortu ortu tercinta di Tangerang. Tujuannya banyak, diantaranya ke dokter gigi untuk motong kawat behel yang kepanjangan dan selama dua minggu ini menusuk dinding pipi dalam saya.
Awalnya saya mau pulang hari kamis sore selepas kuliah kimia dasar yang berakhir pukul 16.00 WIB, tapi ternyata saya wajib ikut kumpul calon asisten comlabs. Yaa...apa boleh buat, kepulangan pun saya tunda. Saya yang sudah membawa tas ransel penuh untuk pulang sejak siang dan sudah pamit ke orang2 di kost untuk pulang, harus balik lagi ke kost setelah kumpul calon asisten comlabs alias ga jadi pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika acara kumpul itu usai.
Esok paginya, saya bangun awal untuk berangkat ke Tangerang awal, tapi saya ingat ada amanah yang belum saya selesaikan di dunia maya. Sambil nungguin attachment selesai di e-mail, saya chat dengan beberapa teman dan... keterusan. hehe..  saya lirik jam, ternyata sudah pukul 06.55!
Wah,, gawat! bus DAMRI jurusan Dago-Leuwi Panjang paling pagi kalau ga salah menghafal jadwal berangkat dari dipati ukur jam 7. kalau gak kebagian yang jam 7 itu, berarti harus nunggu setengah jam lagi, sedangkan saya baru aja waktu chat tadi janjian sama seorang senior yang baru balik backpacker mau jemput di bandara SOETTA jam 10.40. Kalau mau datang tepat waktu, saya harus naik DAMRI yang....  jam 7! Waw..segera saya berpamitan pada teman2 chat dan meluncur ke depan kampus Unpad Dipati Ukur (DU) untuk naik DAMRI. Di angkot, kira-kira 50 meter sebelum pangkalan bus DAMRI, saya melihat ada bus DAMRI berjalan ke arah Dago, tapi gak sempet liat jurusan DAMRI itu. Ahh..tenang, siapa tau itu tadi yang ke Jatinangor. Tapi.... ketika sampai di pangkalan DAMRI, saya baru menyadari kalau bus yang tadi saya lewati adalah bus yang ingin saya tumpangi, karena bus DAMRI jurusan Dago-Leuwipanjang yang ada di pangkalan semuanya kosong melompong, pong, pong!
Saya memutar otak (halah, pake majas) bagaimana caranya dapat DAMRI secepatnya supaya sampai terminal . Kalu naik angkot dari tempat berhenti ini, gak ada yang ke jalur DAMRI untuk mengejar bus tadi. Yang terlintas saat itu adalah menggunakan kemampuan jalan cepat saya untuk mengejar DAMRI. Dari DU saya jalan kaki ke arah simpang melalui jalan pintas dengan harapan bisa bertemu DAMRI tadi disana. Jalan besar yang akan dilalui DAMRI tersayang terlihat dari jalan yang sedang saya tapaki ini, dan DAMRI belum juga terlihat melintas. Aman, pikir saya kala itu. 15 meter lagi saya sampai di jalan besar yang akan dilintasi DAMRI, si bus odong-odong itu melintas,, heuu...saya pias. Udah jalan capek-capek, ga dapet juga DAMRI nya :-(
akhirnya, saya memutuskan untuk naik angkot sampai ke pasar baru dan akan naik DAMRI disana, karena siapa tau kalau beruntung saya masih bisa naik DAMRI yang ledeng-leuwi panjang, syukur yang AC. Meluncur lah saya ke pasar baru yang masih sepi pagi itu, turun di perempatan dan mulai berjalan kaki (lagi) menyusuri pertokoan pasar baru.
Satu langkah, dua langkah... tak ada DAMRI. Yah, nasib! Tiga, empat, lima langkah... masih belum ada DAMRI juga. Setelah beberapa belas langkah, tepat di pemberhentian bus DAMRI untuk pasar baru,,,, "tin..tin.." aha, klakson ini.. sangat dikenal oleh penangkap frekuensi telinga saya, "DAMRI!" Saya tolehkan kepala kebelakang dan terlihatlah Bus Tua "odong-odong" itu datang, DAMRI Leuwi Panjang-Ledeng, AC. Wuidih...
Tuhan memang akan memberikan sesuai dengan apa yang kita usahakan! Saya berusaha dapat naik DAMRI pagi ini, maka saya dapat. Kalau dapat AC, itu mungkin bonus dari Allah karena usaha lebih saya pagi ini dibandingkan orang2 yang tinggal naik di pangkalan DAMRI DU (analisis saya pribadi aja).
Karena Allah memang selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya dan hanya mengubah nasib kaum hamba-Nya yang berusaha untuk berubah, kan?! Ahaha, maaf lah kalau terkesan terlalu mendramatisir, tapi itu yang kepikiran oleh saya pertama kali ketika duduk di bus damri AC ini :D

Friday, September 11, 2009

Morning Sun

0

in a place where the morning sun never shy to shines,

SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School.. (SMAN CMBBS)

Pandeglang, Banten, Indonesia


taken with samsung u-800 soul-b phone

Friday, January 9, 2009

"Tumor" tanaman

0

ini foto batang Albasia yang kena penyakit. Ada yang tau penyakit apa namanya?
yang jelas.. pohon Albasia yang sudah ada benjolan ini susah besar, kalau Bapak saya, menyebut benjolan ini sebagai "tumor albiso", hehehe

Buah Elo/Loa

12

4 Januari lalu, saya berkunjung ke kampung halaman Bapak, di Desa Jodang, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Begitu sampai rumah Kakek dan melepas lelah perjalanan Tangerang-Cikalong selama 9 jam, kami berjalan-jalan ke kebun pohon Albasia, atau masyarakat setempat biasa menyebutnya pohon albiso. Perjalanan dari rumah Kakek ke kebun sekitar 15 menit berjalan kaki melewati jalan tanah dan batu selebar 2,5 meter, melintasi kebun yang terlihat lebih mirip hutan daripada kebun, menanjak juga menurun. 

Di sepanjang perjalanan, adik saya yang memegang kamera pocket mengambil beberapa foto, jepret sana jepret sini. Sampai tiba-tiba tangan saya memungut suatu buah dari tanah, yang saya tidak tahu dimana letak pohonnya. Sekilas, buah ini terlihat seperti buah Tin atau Ara yang sekarang sedang mahal dan digemari orang-orang baik untuk dikonsumsi maupun dijadikan tanaman buah hias. Karena berpikir menemukan buah Tin di tengah hutan, saya berlari menuju Ibu dan Bapak untuk memberi tahu keduanya, bahwa Ibu tidak perlu membeli pohon buah Tin, karena disini ada. Tapi, begitu buah itu sampai di tangan Ibu dan Bapak, keduanya malah tertawa, menertawai kepolosan tiga anaknya yang salah mengenal buah. 

Ternyata, buah itu bukan buah Tin, tapi buah Elo atau juga disebut buah Loa di Indonesia. Nama ilmiah dari buah ini Ficus glomerata. Sekilas, buah ini memang mirip dengan buah Tin/Ara, dari bentuk dan struktur isi nya. Tapi, buah ini lebih bergetah dan kulit/daging buahnya lebih tebal dibanding buah Tin yang pernah saya makan. Bagian yang berbeda lainnya adalah bentuk pohon. Buah Tin memiliki daun menjari seperti daun pepaya dan daun singkong, sedangkan daun pohon Buah Elo seperti daun lainnya, tidak menjari. Perbedaan lainnya, pohon Elo biasanya besar, sedangakan pohon Ara berdiameter batang kecil.
sumber: http://www.henriettesherbal.com
daun Tin
sumber: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ficus_racemosa_leaves.jpg
daun Elo,
Nah, ini foto Buah Elo yang saya temuin. Mirip sama buah Tin, kan? :D

Tuesday, March 11, 2008