Saturday, April 11, 2015

Sup Jamur Brokoli Tahu (Vegan friendly)

0

menu makan siang kali ini adalah... Sup Jamur Brokoli Tahu. Dari namanya, kebayang kan isi sup ini apa aja? Yup! isian dari sup ini cuma tahu, brokoli, dan jamur, yang kali ini saya pakai jamur tiram. Cara membuatnya gampang banget kok :). Sup ini juga cocok untuk vegetarian karena tanpa daging hewan, dan buat anak kost yang merasa ribet atau kemahalan beli daging ayam.. resep kali ini oke banget karena kuah sup ini menggunakan kaldu jamur. :D

Sebelumnya saya baca-baca tentang kaldu jamur ini dari grup facebook NCC (grup ini bermanfaat dan informatif banget untuk urusan maska-masak), dan setelah dipelajari dari beberapa link ternyata inti pembuatannya adalah tumisan jamur dan bawang yang kemudian direbus. Jamur yang biasa digunakan adalah campuran shitake, merang dan champignon, tapi pada dasarnya semua jamur yang edible (bisa dimakan) bisa dibuat kaldu jamur ini. Orang-orang bilang kaldu jamur ini rasanya gak kalah gurih sama kaldu dari ayam atau sapi.. kalau kata saya sih, MAKNYUS!

Sup Jamur Brokoli Tahu
ala Dinni

Bahan:
1 kotak tahu putih besar, potong dadu
150 gram jamur merang, belah menjadi dua
50 gram jamur merang, belah-belah kecil
200 gram brokoli, potong kecil ukuran makan
1 batang daun bawang, iris
1 batang daun seledri, iris
2 siung bawang putih, haluskan
3 siung bawang merah, haluskan
1 liter air
garam dan merica secukupnya

Cara Membuat:

  1. tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum, lalu masukkan 50 gram jamur merang yang dipotong kecil. Tumis hingga jamur layu. (saya menumisnya di panci supaya gak banyak wadah terpakai)
  2. masukkan air kedalam tumisan (atau didihkan air lalu masukkan tumisan kalau menumisnya di wajan)
  3. rebus tumisan tadi hingga air sedikit berkurang
  4. masukkan brokoli, masak hingga brokoli setengah matang
  5. masukkan tahu, jamur, daun bawang, garam, dan merica
  6. cicipi rasa kuah hingga didapat rasa yang pas, lalu angkat dan sajikan

Wednesday, April 8, 2015

Rice Cooker Mac and Cheese

0

Hampir satu bulan jadi anak rumahan setelah wisuda, alhamdulillah :D
Siang-siang, di rumah, sendirian daaan.. lapar! Nengok kulkas ibu nemu makaroni, keju cheddar block, kaldu ayam sisa bikin sop, dan susu cair. Dari bahan-bahan ini, yang pertama kepikiran adalah Mac and Cheese yang belakangan ini gatau kenapa kayanya kok jadi ngehips di tempat-tempat kongkow anak muda dengan harga lumayan padahal bikinnya gampang dasar mahasiswa ekonomis gak mau rugi. Pas mau nyalain kompor kok ya gas nya abis. Jadi deh mempekerjakan rice cooker mini saya yang sudah diboyong dari kosan.

Jadiii.. inilah diaa.. *backsound tabuhan genderang* Rice Cooker Mac and Cheese!

Resep ini saya adaptasi dari sini

Bahan:

  • 200 gram pasta kering, (saya pakai makaroni biar pas namanya Mac and Cheese, tapi bolehjuga pakai pasta jenis lain)
  • 350 ml kaldu ayam (dibuat dari daging ayam yang direbus sampai airnya terbentuk kaldu)
  • 1 sendok teh garam
  • 250 ml susu cair (saya pakai full cream)
  • 200 gram keju, parut halus


Cara Membuat:

  1. Masukkan pasta, kaldu ayam, dan garam kedalam wadah rice cooker, masak selama kurang lebih 15 menit (kalau rice cookernya sudah ke mode warm/menghangatkan sebelum 15 menit atau sebelum matang, bisa ditekan lagi tombol untuk memasaknya)
  2. buka tutup rice cooker, tambahkan susu dan keju, aduk dengan spatula (jangan dengan sendok logam, nanti lapisan wadah rice cookernya rusak), masak kembali hingga 20 menit. (saya karena udah ga sabar jadi cuma 15 menit, hehe)
  3. Mac and Cheese, made with rice cooker
  4. Tadaaa... Mac and Cheese siap dimakan. Gampang kan? :)


Tepat saat saya mau makan, Ibu datang bawa Garang Asem, jadi deh Mac and Cheese ala saya ini dimakan bareng Garang Asem. Rasanya gimana? Enak-enak aja buat saya sih.. ini baru namanya East meet West. Hahahah.. Alhamdulillah
East meet West : Garang Asem dimakan bersama Mac and Cheese

Wednesday, December 24, 2014

Kebab Ayam

4


selama ini yang terbayang kalau mendengar kata kebab adalah... semacam roti bundar tipis yang diisi dengan daging panggang dan sayuran, berbumbu dan ditambah mayonaise. Pas iseng googling resep ayam dan baca resep ini di vemale.com, jadi penasaran sama definisi kebab. Owalah, ternyata kebab adalah barbecue alias daging dan sayuran yang di panggang atau di bakar, sedangkan kebab yang kita kenal yang mirip crepes pakai sayuran dan daging itu adalah doner kebab. Hehehe

Dan.. taraaaaa... inilah hasil modifikasi saya dari resep kebab ayam di vemale.com tersebut. Kebab ini harusnya di grill/panggang dengan panggangan, berhubug di kosan gak ada jadi saya pakai wajan anti lengket sejenis teflon.

Bahan:
250 gr dada ayam filet tanpa kulit, potong kecil-kecil
1 buah paprika, potong kecil-kecil
4 buah tomat cherry (atau bisa diganti dengan 1 tomat biasa)
4 siung bawang putih (memarkan lalu cincang halus, atau bisa ditumbuk)
1 sdm madu
1 sdm kecap manis
1 sdm merica bubuk
1 sdm minyak goreng (saya pakai olive oil)
garam secukupnya (pakai feeling aja, hehe)
selada secukupnya (sebagai sayuran penyeimbang)

Cara membuat:
1. buat bumbu marinasi/perendam dengan mencampurkan minyak, madu, kecap, merica, garam, dan bawang putih
2. masukkan lalu rendam ayam beserta paprika dan tomat dalam bumbu marinasi selama 30-60 menit. (untuk hasil yang lebih oke, marinasi nya disimpan di kulkas)
3. Setelah marinasi selesai, tusuk-tusuk ayam-paprika-tomat bergantian, sesuai selera aja.
4. Panggang sampai ayam matang (sekitar 15 menit). selama di panggang, bisa di bolak-balik dan dioles sisa bumbu marinasi biar tambah meresap
5. Kebab ayam siap disajikan, ditemani dengan salad atau selada atau sayuran lainnya juga oke :)

Selamat mencoba

Saturday, December 20, 2014

Lempah Kuning Ikan Tengiri

0

Salah satu hal yang membuat saya begitu bersyukur pernah kerja praktek di Bangka adalah kecocokan saya dengan makanannya. Berbagai macam makanan di Bangka yang pernah saya coba itu cocok banget sama lidah saya, mulai dari pempek ikan dan saudaranya (model, tekwan dan lenggang), kue bingke, pempek udang, daaan ini yang paling disuka: Lempah Kuning Ikan. Duh, ketauan deh kerja prakteknya sambil icip-icip makanan, hihihi.

Selama di Bangkasaya mengenal dua macam lempah -setau saya, mohon maaf kalau salah dan mohon dikoreksi- yaitu lempah darat yang menggunakan daun keladi dan lempah kuning yang merupakan sejenis masakan ikan kuah asam. Perpaduan bumbu-bumbu, segarnya ikan, rasa asam dan kunyit yang jadi satu, telah berhasil membuat lidah saya jatuh cinta dan merindukan lempah kuning meski telah pulang ke tanah Jawa.

Jadi.. kalau lagi rindu sama lempah kuning Bangka, saya buat sendiri dengan resep berikut ini.
*Maaf fotonya kali ini buram, di foto pakai kamera handphone 1 MP :D

Bumbu Halus:
jahe, sedikit saja
1/2 ruas kunyit (atau sesuai selera)
3 siung bawang putih
3 siung bawang merah
4 cabai merah keriting,
4 cabai rawit, (bisa ditambah atau dikurangi sesuai selera)
1/2 sendok teh terasi
minyak, sedikit saja untuk menumis

Bahan:
6 potong ikan Tengiri (saya pakai bagian badan saja)
1/4 buah nanas (nanas yang saya pakai berukuran besar), potong kecil ukuran bisa dimakan
2 buah tomat merah, potong kecil seukuran yang bisa dimakan
1 buah tomat hijau, potong kecil seukuran yang bisa dimakan
1 liter air
1 batang serai, memarkan
1 ruas lengkuas
1,5 sendok makan gula pasir (atau sesuai selera)
2 sendok teh garam
2 sendok makan asam jawa yang dilarutkan dengan segelas air hangat

Cara membuat:
Siapkan wajan (tapi saya pakai panci biar gak banyak wadah terpakai), tumis bumbu halus hingga harum
tambahkan air kedalam tumisan, masukkan lengkuas dan serai, kemudian masak hingga mendidih
masukkan bahan-bahan lainnya kecuali nanas, aduk perlahan, lalu biarkan hingga ikan matang.
masukkan nanas dna tomat, masak hingga mendidih, diamkan sebentar. cicipi.
sajikan selagi hangat

Wednesday, November 26, 2014

Brownies Kukus Oatmeal Wortel (tanpa gula)

0

Ini adalah kali pertama saya membuat post di grup NCC dan ikutan NCC brownies Week. :D Setelah sekian lama jadi penyimak sejati ibu-ibu di grup dan paling hanya sesekali berkomentar, saya memberanikan diri untuk membuat post. Resep ini ikut serta memeriahkan (dan mejeng) di Blog NCC Brownies Week dan kemarin dapat email dari panitia.. saya dapat badge jingga NCC BW, hihihi, senaaaaangs <3



Pembuatan kue ini diawali dari rasa penasaran mencoba resep-resep brownies yang banyak gentayangan di grup fb Natural Cooking Club (NCC). Bagi anak kost dengan peralatan dapur seadanya seperti saya, resep yang terlihat bisa dieksekusi adalah brownies yang tanpa oven dan tanpa mixer, pokoknya yang minim alat deh.

Waktu teman kost pindah untuk melanjutkan study ke luar, teman saya ini mewariskan sebungkus besar Oatmeal Instant yang tanpa rasa ke saya. Berhubung saya gampang bosan dengan oatmeal yang dibuat bubur dikasih toping begitu-begitu saja, akhirnya saya mencari cara untuk menghabiskan oatmeal yang hampir satu kilogram ini dalam berbagai bentuk olahan makanan.

Jadi, dari dua hal itu,terpikirlah untuk membuat brownies yang lebih sehat dari biasanya dengan mengganti terigu dengan oatmeal, dan menambahkan sayuran, tapi belum nemu resep mana yang akan saya eksekusi, hahaha. Setelah belanja bahan-bahan seperti margarine dan coklat bubuk, ada seorang member grup NCC yang mem-post brownies kukus wortel buatannya. Saya merasa, resep ini jodoh banget sama saya, karena pakai sayur, tanpa mixer, dan di kukus. Akhirnya, mengajak satu teman kost saya, Nabila, kami mengeksekusi resep brownies wortel ini tadi malam. Lucunya, saya dan Nabila sama-sama tidka punya gula pasir di kost, dna hanya punya madu. Jadilah brownies ini tanpa gula sama sekali, karena 100% gula dalam resep diganti menjadi madu :D

Berikut ini resep dari akun FB bernama Ibueasy Cooking yg di post di NCC setelah saya modifikasi:


Bahan:
150 gr margarin
45 gr cocoa powder (yang saya gunakan raw unsweetened cocoa powder, katanya sih lebih sehat)
150 gr madu (di resep aslinya 150 gr gula pasir)
100 gr wortel, di parut
120 gr Oatmeal Instant yang tidak perlu dimasak (resep asli: 120 gr terigu protein sedang)
0.5 sdt baking powder
3 butir telur ukuran sedang

Cara membuat:
1. Siapkan panci pengukus yang akan digunakan, isi tempat airnya dan nyalakan kompor, agar ketika adonan siap di kukus, kukusan sudah dalam keadaan panas.

2. Tim margarin dengan cocoa powder dengan wadah tahan panas di atas air panas atau air yang sedang di masak (jadi wadah berisi butter tidak langsung terkena api) sambil diaduk sampai menyatu, lalu matikan api dan biarkan dingin dan mengental, sisihkan

3. Kocok telur dan madu sampai larut, lalu masukkan campuran coklat dan margarin yang telah di tim, tambahkan wortel yang telah diparut, aduk rata.

4. Tambahkan oatmeal dan baking powder kedalam adonan, aduk rata perlahan

5. Siapkan loyang. Olesi permukaan dalam loyang dengan margarin, taburi sedikit terigu. Bisa juga dialasi dengan kertas roti lalu dioles margarin.

6. Tuang adonan ke dalam loyang, lalu kukus selama kurang lebih 25 menit. Tes tusuk untuk mengetahui kematangan brownies, jika sudah matang diangkat dan dibiarkan dingin.

7. Brownies yang sudah dingin (suhu ruang) selanjutnya dikeluarkan dari loyang dan bisa diberi toping sesuai selera (saya menambahkan keju parut dan Milo cereal)

Gimana rasanya? Enaaaaaaak.. :9
Tekstur brownies ini padat dan agak lembab khas brownies kukus pada umumnya. Buat saya dan Nabila, takaran madu tersebut memberikan rasa yang pas tidak terlalu manis, namun bisa ditambahkan sesuai selera. Selamat mencoba... :)


Monday, November 24, 2014

Menjadi Agen Muslim dan Islam yang Baik :)

1

31 desember 2013, hari itu saya sedang di bandara bersama keluarga dan rombongan untuk pergi ke suatu tempat yang saya impikan sejak lama :)

Kami sekeluarga sampai di bandara sebelum zhuhur. Waktu check in masih lama karena penerbangan kami dijadwalkan setelah maghrib, tapi pihak travel menjadwalkan rombongan sudah berkumpul sejak zhuhur karena ramainya keberangkatan hari itu. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk ke mushalla menungu tiba waktu zhuhur.

Di samping jalan menuju mushalla, seorang wanita WNA terlihat sedang kebingungan di depan Coffee and Tea vending machine (atau apa sih istilahnya? Mesin kopi dan teh otomatis yang tinggal masukin uang trus keluar minumannya itu looh..). Wanita tersebut dikelilingi beberapa orang laki-laki Indonesia yang ia tanyai sesuatu namun mereka terlihat tak tahu bagaimana harus menyampaikan maksud mereka kepada wanita ini. Yang terdengar dari beberapa laki-laki itu adalah kata no, no, dan no.

Saya akhirnya mendekati WNA tersebut dan bertanya mengenai apa yang sedang terjadi. Agak grogi sih sebetulnya karena saya udah lama gak ngomong bahasa inggris, hehe. Tapi, bismillah.. dan percakapan itu terjadi.

Ternyata madam ini mau beli minum di mesin minuman, di mesin ga ada keterangan apa-apa cuma ada tulisan Rp 15.000, tapi pecahan uang yang dia punya adanya Rp 20.000. Daritadi dia nanya ke orang-orang untuk menukarkan uang dan cara menjalankan mesin, tapi orang-orang di sekitarnya yang dia tanya nampak bingung dan cuma bilang no no no.

Berhubung saya ga bawa dompet -saya baru sadar bahwa saya gak bawa uang sama sekali- jadi saya menukarkan uang madam ini ke ibu saya dengan pecahan yang bisa digunakan olehnya. Hahaha, parah emang mau bepergian jauh malah gabawa uang tunai, mentang-mentang jalan sama keluarga. Kami akhirnya mencoba mesin tersebut. Saya tertawa dan membuat madam bertanya "what are you laughing at, miss?" Saya kemudian menjawab alasan saya tertawa "honestly, madam, i've been passing this machine several time and have no interest in buying coffee from this machine. I've never tried this kind of machine before, it's really my first trial and i'm guiding you right now". Mendengar itu, madam tertawa senang "it's ok, what you've done is really a help".

Madam tersebut sebetulnya menginginkan minuman kopi dingin, tapi yang sedang tersedia di mesin (dan baru diketahui ketika uang telah dimasukkan) adalah kopi hngat dan teh dingin. Akhirnya dia mengganti pilihannya menajdi kopi hangat dengan alasan  “well, that’s better than losing fifteen thousand”. Kirain duit 15ribu yg saat itu cuma satu koma sekian dolar kaga bakal disayang-sayang sama orang luar negeri, haha.

Kopi panas telah didapatkan. Dia mengucap terimakasih berkali-kali, lalu menunjuk suatu sudut di gedung ini. Terlihat seorang lelaki WNA eropa seumur madam ini berdiri di sudut yang ditunjuk madam tersebut lalu melambaikan tangan ke arah kami. "He's my hubby and he'll really appreciate if he know what you've done for me”. Sampai disini, saya bingung karena kalimatnya terdengar lebay, saya mengatakan “nothing special with changing money and pressing this machine button, ma’am”. Dia tertawa, menyeruput kopi hangatnya, dan bercerita.

“We came visiting Indonesia with a big goal. Guess what?” Dia bertanya.

Pertanyaan ini terlalu mudah dijawab bagi saya, mayoritas WNA datang ke Indonesia tentu ingin berwisata menikmati alam Indonesia “Traveling and enjoying the beautiful scenery of Indonesia?”, tebak saya.

Dia tertawa, lalu berkata “don’t you realize? The life of muslim is wonderful, peaceful. And islam is a great religion".

Kalimatnya jelas bukan jawaban langsung untuk tebakan saya, sepertinya dia ingin saya menyimpulkan. Ya, saya pernah mendapati beberapa orang datang ke Indonesia untuk mengetahui islam lebih dekat, dan seperti apa kehidupan muslim sebetulnya, benarkah islam mendoktrin umatnya untuk memusuhi umat agama lainnya, dan alasan-alasan lainnya yang tak bisa mereka temui dalam kehidupan keragaman umat beragama di negara mereka.

Di kejauhan, ibu saya terlihat melambaikan tangan memanggil saya untuk bergabung bersama rombongan, saya meminta diri pada WNA ini sambil dalam hati mendoakannya mendapat hidayah islam. Dia mengucapkan pesan perpisahan

“be a proud muslim, and be a good representative for islam, many people will judge how islam is by seeing the muslim. Yea I know it’s unfair, but somehow that’s their easiest access to get to know how your religion is”

Pesan yang makjleb dan beraaat buat seorang saya, tapi membuat saya sadar bahwa kita sebagai muslim adalah agen-agen islam yang harus berusaha sebaik mungkin merepresentasikan islam. J

Saya berjalan menuju tempat keluarga saya menunggu bersama rombongan, lalu kemudian memilih duduk diatas trolley bersama koper-koper. Di dekat saya ada dua orang bapak berseragam rombongan kami sedang bercakap seru dan disampingnya ada seseorang yang mengantar rombongan dan saat itu saya belum tahu namanya.  Dari percakapan dua bapak tersebut, tanpa berniat menguping, terdengarlah sebuah kalimat,
“tugas kita adalah berbuat baik, menaati agama, urusan balasan dan menilai itu hak Allah, kita hanya perlu menjadi muslim yang baik dan mengharap ridho Allah”.
Ah, sebuah perjalanan impian, ke negeri tempat asal manusia dengan akhlak terindah, dan diawali dengan kejadian yang meberikan pesan-pesan indah.


Aku menatap langit-langit bandara dan mengucap dengan haru di dalam hati, “labbaik Allahumma labbaik”