Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Friday, July 24, 2015

Apakah kita diperintahkan menyembunyikan khithbah / lamaran?

5

"Sembunyikanlah Pinangan, Umumkanlah Pernikahan"

Sejak usia menjelang kepala dua, saat kawan-kawan sebaya satu persatu mulai menikah.. saya mendapati sebuah ‘fenomena’ diantara orang-orang yang sedang menuju pernikahan J. Fenomena yang saya maksud ini berkaitan dengan peminangan a.k.a lamaran alias khithbah atau apapun itu istilahnya, yaitu “merahasiakan pinangan”.

Mengenai merahasiakan pinangan ini, pertama kali saya temui dalam sebuah tausiyah kemuslimahan di kampus, yang saat itu disebutkan bahwa ada hadits yang berbunyi “Sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan”. Kalimat tersebut akhirnya berulang kali saya temui dari tautan (link) artikel yang dibagi oleh teman, artikel koran dan majalah, tulisan blog teman, twit seorang ustadz dengan banyak follower, dan tentunya dari orang-orang sekitar saya.

Seringnya menemui kalimat tersebut, serta seringnya menemui berbagai kejadian yang berhubungan dengan kerahasiaan pinangan membuat saya mencari tau mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Harap maklum, untuk urusan hadits di zaman yang arus informasinya sangat cepat ini, begitu mudahnya hadits-hadits palsu bertebaran, sehingga saya terkadang –kalau lagi rajin aja- memilih untuk menulisnya terlebih dahulu lalu mencari tau –walau sekedar gugling- mengenai kalimat yang disebut sebagai hadits tersebut. Karena ternyata begitu banyak kisah yang sejak kecil kita sangka benar mengenai rasulullah serta para sahabat radhiyallahu ‘anhum ternyata dusta alias haditsnya palsu. Atau misalnya kita sebar berita yang ternyata haditsnya palsu, kan secara gak langsung kita ikutan berdusta atas nama rasulullah L duh serem.

Begitupula dengan hadits “sembunyikanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” ini, saya sempatkan mencarinya di buku fiqh yang ada bab nikah serta googling di beberapa web yang membahas hadits maupun pernikahan sejak beberapa waktu lalu tapi baru kali ini saya sempatkan untuk menulisnya di blog *berlagak sibuk, dilempar sandal oleh pemirsa* :p

Berikut ini laporannya...

1. Pertama-tama, saya mencarinya di bulughul marom (edisi terjemah, penerbit al ma’arif, 1986). Pada bab nikah, saya tidak menemui hadits yang mengatakan “rahasiakanlah pinangan” atau semacamnya, tapi saya menemukan hadits yang memerintahkan “umumkanlah pernikahan”. Bunyinya:
“Dari Amir bin Abdulllah bin Zubair dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya rasulullah bersabda: “Beritakanlah perkawinan itu oleh kalian”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh al-Hakim.”
2.  Dalam Shahih Fiqih Wanita (Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Akbar Media, 2009). Pada bab nikah, saya menemukan hadits yang menyuruh untuk mengumumkan pernikahan, tapi tidak menemukan hadits yang menyuruh merahasiakan pinangan.
“Umumkanlah pernikahan” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 15697 dari hadits Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, dst *panjangnya catatan kaki keterangan hadits ini sehingga tidak saya tulis semua, maaf)
3.  Sulitnya mencari matan/kalimat hadits ini dalam bahasa Indonesia secara lengkap yang menyertakan hadits ini diriwayatkan oleh siapa, nomor berapa, dan statusnya bagaimana. Kalau kita googling, kita akan banyak menemukan tulisan-tulisan blog, kumpulan twit mengenai pernikahan, dll yang menyertakan kalimat “rahasiakanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan” tapi semua tulisan itu tidak menyertakan sumbernya.
Ada beberapa tulisan yang menulis hadits tersebut adalah riwayat Ibnu Hibban nomor 1285, maka saya mencari hadits riwayat Ibnu Hibban nomor tersebut. Dan yang saya temui, hadits riwayat Ibnu Hibban 1285 berbunyi “umumkanlah pernikahan” dengan derajat hasan, kalimat hadits tersebut tidak mengandung “sembunyikanlah pinangan”

4. Saya mencoba mencarinya dalam bahasa inggris dengan kata kunci “hadith to hide engagement”, dan saya menemui link ini dan ini juga

5. Selanjutnya, saya coba mencari dalam kata kunci bahasa arab copas judul di link islamhouse sebelumnya, dan menemukan ini pada web ahlalhdeeth.
Isi dari link ini pada bagian awal membahas mengenai derajat hadits yang kalimatnya serupa tapi tak sama dengan yang saya cari, yaitu “Jelaskan/tunjukkanlah pernikahan, dan sembunyikanlah khithbah” namun pada bagian tengah hingga akhir tulisan link ahlalhdeeth ini sama seperti link pada nomor 4

Dari temuan-temuan tersebut, maka kesimpulan yang saya temukan dari hasil penelusuran adalah:

  1. hadits yang menyertakan “rahasiakanlah pernikahan” adalah hadits yang dinyatakan berderajat lemah (dho’if) sebagaimana dinyatakan oleh syaikh al-Albani (merujuk pada pernyataan di web ahlalhdeeth dan islamqa), sedangkan perintah “umumkanlah pernikahan” merupakan perintah yang berasal dari hadits yang berderajat Hasan
  2. mengumumkan acara peminangan adalah hal yang dibolehkan, karena dasar hukum untuk mu’amalah adalah semuanya boleh hingga ada dalil yang melarang, dan dalam hal pinangan ini tidak diketahui dalil syar’i yang melarang. Yang harus diperhatikan adalah, mengumumkan pinangan ini tetap harus mengikuti ketentuan agama sebagaimana walimah pernikahan (misal tidak campur baur yang bukan mahram, dll). Dengan mengumumkan peminangan juga bisa mengurangi probabilitas tingkat sakit hati orang yang berharap tapi gak kesampaian meminang/dipinang, yaa semacam ada persiapan atau gak ngarep gitu deh :D
  3. Menyembunyikan pinangan juga dibolehkan (karena tidak ada larangan) jika dikhawatirkan bisa timbul hasad atau khawatir adanya sihir akibat penyakit hati karena peminangan (merujuk pada ahlalhdeeth). Tapi yang perlu diingat adalah, jangan menganggap bahwa menyembunyikan pinangan ini adalah perintah atau keharusan dari Rasulullah ﷺ. 
  4. Ada juga beberapa orang yang memilih merahasiakan pinangan supaya gak di cie-cie-in *halah bahasa apa ini* atau digoda oleh teman-teman, karena digodain, diledekin, dan di-cie-cie-in itu bisa mengganggu keterjagaan hati antara pasangan yang telah terikat pinangan padahal mereka belum halal.. nah kalau untuk alasan ini, kayanya boleh juga nih.. asal jangan sampe bohong waktu ditanya udah khitbah atau belum aja :D
  5. Dalam hal mengumumkan peminangan atau merahasiakannya, kalau mau ngasih tau orang *atau para fans* bahwa dirinya taken –supaya para fans bisa lebih legowo menerima kenyataan- tapi juga gak siap untuk di cie-cie-in, bisa juga diambil jalan tengah: menyatakan diri sudah engaged atau taken tapi merahasiakan namanya, Cara ini pernah dipraktekkan oleh teman saya satu bulan sebelum beliau menyebar undangan pernikahan.. alasan beliau yaa itu tadi: supaya yang lain berhenti ngarep :D. Maklum, teman saya ini selebriti.
Lalu setelah mengetahui bahwa perintah menyembunyikan pinangan itu haditsnya lemah dan tidak meyakini itu sebagai perintah rasulullah ﷺ ketika memilih untuk merahasiakan pinangan, ada lagi yang harus kita latih nih: menghindari berdusta. Dalam beberapa kesempatan, saya menjumpai sekelompok orang yang sangat menjaga kerahasiaan status telah terpinang/meminang ataukah belum dirinya ataupun orang yang dikenalnya, sehingga orang lain sulit mengetahui status atau availability *halah, bahasanya* dari orang yang ditarget untuk dijadikan pasangan apakah available ataukah taken.

Saya bahkan beberapa kali menjumpai si A yang menanyakan kepada si B apakah si C available ataukah taken, lalu si B menjawab tidak tahu kepada si A, padahal tak lama setelah itu si C menyebar undangan dan diketahui bahwa si B adalah mediator dari si C dan pasangan dari awal hingga pernikahan dan si B ini tahu bahwa si C sudah taken ketika si A bertanya status si C… alasannya: “bukankah kita harus menjaga kerahasiaan pinangan?”. Sampai disini, menurut hemat saya, maka si B bisa kita katakan telah berbohong, dimana dusta macam ini tetaplah terhitung dusta: hati-hati bro bray, bisi dosa. Juga kejadian-kejadian lain semisal ngobrol sama teman tiap hari yang mengaku jomblo minta dicariin eh besoknya nyebar undangan. Cerita-cerita ini didasari oleh satu hal: keyakinan terhadap hadits merahasiakan pinangan.

Semoga berkenan, ditulis dari hati untuk pembaca

Allahu ta’ala a’lam

Tangerang, 7 Syawal 1436 H / 23 Juli 2015

Monday, November 24, 2014

Menjadi Agen Muslim dan Islam yang Baik :)

1

31 desember 2013, hari itu saya sedang di bandara bersama keluarga dan rombongan untuk pergi ke suatu tempat yang saya impikan sejak lama :)

Kami sekeluarga sampai di bandara sebelum zhuhur. Waktu check in masih lama karena penerbangan kami dijadwalkan setelah maghrib, tapi pihak travel menjadwalkan rombongan sudah berkumpul sejak zhuhur karena ramainya keberangkatan hari itu. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk ke mushalla menungu tiba waktu zhuhur.

Di samping jalan menuju mushalla, seorang wanita WNA terlihat sedang kebingungan di depan Coffee and Tea vending machine (atau apa sih istilahnya? Mesin kopi dan teh otomatis yang tinggal masukin uang trus keluar minumannya itu looh..). Wanita tersebut dikelilingi beberapa orang laki-laki Indonesia yang ia tanyai sesuatu namun mereka terlihat tak tahu bagaimana harus menyampaikan maksud mereka kepada wanita ini. Yang terdengar dari beberapa laki-laki itu adalah kata no, no, dan no.

Saya akhirnya mendekati WNA tersebut dan bertanya mengenai apa yang sedang terjadi. Agak grogi sih sebetulnya karena saya udah lama gak ngomong bahasa inggris, hehe. Tapi, bismillah.. dan percakapan itu terjadi.

Ternyata madam ini mau beli minum di mesin minuman, di mesin ga ada keterangan apa-apa cuma ada tulisan Rp 15.000, tapi pecahan uang yang dia punya adanya Rp 20.000. Daritadi dia nanya ke orang-orang untuk menukarkan uang dan cara menjalankan mesin, tapi orang-orang di sekitarnya yang dia tanya nampak bingung dan cuma bilang no no no.

Berhubung saya ga bawa dompet -saya baru sadar bahwa saya gak bawa uang sama sekali- jadi saya menukarkan uang madam ini ke ibu saya dengan pecahan yang bisa digunakan olehnya. Hahaha, parah emang mau bepergian jauh malah gabawa uang tunai, mentang-mentang jalan sama keluarga. Kami akhirnya mencoba mesin tersebut. Saya tertawa dan membuat madam bertanya "what are you laughing at, miss?" Saya kemudian menjawab alasan saya tertawa "honestly, madam, i've been passing this machine several time and have no interest in buying coffee from this machine. I've never tried this kind of machine before, it's really my first trial and i'm guiding you right now". Mendengar itu, madam tertawa senang "it's ok, what you've done is really a help".

Madam tersebut sebetulnya menginginkan minuman kopi dingin, tapi yang sedang tersedia di mesin (dan baru diketahui ketika uang telah dimasukkan) adalah kopi hngat dan teh dingin. Akhirnya dia mengganti pilihannya menajdi kopi hangat dengan alasan  “well, that’s better than losing fifteen thousand”. Kirain duit 15ribu yg saat itu cuma satu koma sekian dolar kaga bakal disayang-sayang sama orang luar negeri, haha.

Kopi panas telah didapatkan. Dia mengucap terimakasih berkali-kali, lalu menunjuk suatu sudut di gedung ini. Terlihat seorang lelaki WNA eropa seumur madam ini berdiri di sudut yang ditunjuk madam tersebut lalu melambaikan tangan ke arah kami. "He's my hubby and he'll really appreciate if he know what you've done for me”. Sampai disini, saya bingung karena kalimatnya terdengar lebay, saya mengatakan “nothing special with changing money and pressing this machine button, ma’am”. Dia tertawa, menyeruput kopi hangatnya, dan bercerita.

“We came visiting Indonesia with a big goal. Guess what?” Dia bertanya.

Pertanyaan ini terlalu mudah dijawab bagi saya, mayoritas WNA datang ke Indonesia tentu ingin berwisata menikmati alam Indonesia “Traveling and enjoying the beautiful scenery of Indonesia?”, tebak saya.

Dia tertawa, lalu berkata “don’t you realize? The life of muslim is wonderful, peaceful. And islam is a great religion".

Kalimatnya jelas bukan jawaban langsung untuk tebakan saya, sepertinya dia ingin saya menyimpulkan. Ya, saya pernah mendapati beberapa orang datang ke Indonesia untuk mengetahui islam lebih dekat, dan seperti apa kehidupan muslim sebetulnya, benarkah islam mendoktrin umatnya untuk memusuhi umat agama lainnya, dan alasan-alasan lainnya yang tak bisa mereka temui dalam kehidupan keragaman umat beragama di negara mereka.

Di kejauhan, ibu saya terlihat melambaikan tangan memanggil saya untuk bergabung bersama rombongan, saya meminta diri pada WNA ini sambil dalam hati mendoakannya mendapat hidayah islam. Dia mengucapkan pesan perpisahan

“be a proud muslim, and be a good representative for islam, many people will judge how islam is by seeing the muslim. Yea I know it’s unfair, but somehow that’s their easiest access to get to know how your religion is”

Pesan yang makjleb dan beraaat buat seorang saya, tapi membuat saya sadar bahwa kita sebagai muslim adalah agen-agen islam yang harus berusaha sebaik mungkin merepresentasikan islam. J

Saya berjalan menuju tempat keluarga saya menunggu bersama rombongan, lalu kemudian memilih duduk diatas trolley bersama koper-koper. Di dekat saya ada dua orang bapak berseragam rombongan kami sedang bercakap seru dan disampingnya ada seseorang yang mengantar rombongan dan saat itu saya belum tahu namanya.  Dari percakapan dua bapak tersebut, tanpa berniat menguping, terdengarlah sebuah kalimat,
“tugas kita adalah berbuat baik, menaati agama, urusan balasan dan menilai itu hak Allah, kita hanya perlu menjadi muslim yang baik dan mengharap ridho Allah”.
Ah, sebuah perjalanan impian, ke negeri tempat asal manusia dengan akhlak terindah, dan diawali dengan kejadian yang meberikan pesan-pesan indah.


Aku menatap langit-langit bandara dan mengucap dengan haru di dalam hati, “labbaik Allahumma labbaik”

Saturday, April 20, 2013

Ya Allah, perbaikilah..

0

ا للَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةًا  لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

"Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini penambah kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejelekan."

H.R. Muslim

Saturday, March 16, 2013

6 stages to knowledge

0


Ibn Qayyim al-Jawziyyah- rahimahullaah - said:


"There are six stages to knowledge: Firstly: Asking questions in a good manner.Secondly: Remaining quiet and listening attentively.Thirdly: Understanding well.Fourthly: Memorising.Fifthly: Teaching.Sixthly- and it is its fruit: Acting upon the knowledge and keeping to its limits."

Thursday, February 14, 2013

Photo-Message and English Post (Trial)

0


Hi everyone! It's been a while i do not post anything here, hehe. I'm at the 8th semester now, and i hope it's my last semester for completing my undergraduate study, Aamiin. Currently, i'm doing my undergraduate research, it's about the veneer (dental ceramic) from feldspathic mineral. Pray for me.. ^^ May Allah always blesses and guides us, also gives us easiness in everything we do :)

These two photos were old photo, the 1st one was taken at 2009 and the 2nd was at 2011. I made it as a photo-message taken from the hadith/as-sunnah and The Qur`an after inspired by many photo-quotes in tumblr, haha.

you may visit my tumblr at: blogiseng.tumblr.com

salam, Dinni Nurhayani
___

PS: i try to make some post in English now :D



Monday, January 21, 2013

Friday, January 4, 2013

Tsabat dalam menghafal Al-Quran

0

Kamis, 27 Desember di waktu akhir dhuha,

Kegiatan hari itu telah dicukupkan, seorang ustadzah yang masih muda dan energik berpesan kepada para muridnya. Pesan itu disampaikan dengan singkat, namun tegas dan penuh makna, sesuai kepribadian beliau. Pesan itu tentang 'ats-tsabat', yaitu teguh hati, sabar, tabah, tidak mudah bosan dan tidak mudah marah. Satu kata tsabat itu saja sudah begitu banyak maknanya. Ats-tsabat yang disampaikan ustadzah kali ini adalah ats-tsabat dalam menghafal Al-Quran. Yang saya tulis berikut ini merupakan petikan dari yang disampaikan beliau,
_______
Ahlan wa sahlan. sahlan dalam bahasa arab jika dengan tulisan yang benar, bermakna mudah. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, termasuk dalam menghafal Al-Quran.

Ats-tsabat dalam menghafal Al-Quran sangat diperlukan. Ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan mengenai ats-tsabat ini.

Yang pertama, teruslah memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Memohonlah agar Allah meridhoi kita dalam menghafal kalamullah yang ada di Al-Quran. Al-Quran adalah fondasi ilmu, ilmu itu milik Allah, maka mintalah kepada Allah, hanya Allah saja. Memohonlah tanpa meminimalisasi keinginan, karena sesungguhnya tak ada yang tak mungkin bagi Allah, dan keinginan manusia itu, apalagi dalam kebaikan, sesungguhnya mudah bagi Allah.

Kedua, beribadahlah dengan tidak berorientasi pada hasil. Saat bibit disemai kemudian tumbuh dan siap dipanen, janganlah melihat apa yang dipanen, tapi perhatikan bibit yang ditanam, proses yang dilakukan, baru kemudian berharap hasil panen menjadi sangat baik. Begitupula ibadah, tetapkan niat lalu teguhkan, perhatikan syarat sah dan rukun dari ibadah tersebut, perhatikan detail keberterimaan amal, lalu lakukan dengan sungguh-sungguh, ikhlas-murnikan keesaan Allah.

Ketiga, menyebarkanhidayah Al-Quran. Hidayah itu datangnya dari Allah, dan diberikan oleh Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Tapi, melalui Al-Quran beserta ilmu di dalamnya, dan pengamalan yang mengikuti tuntunan agama yang lurus, raihlah kesempatan untuk menjadi perantara orang-orang menerima panggilan ke jalan Allah.

yang keempat, jelaskan tujuan. Kejelasan tujuan merupakan hal yang penting, karena hidup ini adalah perjalanan dan kita adalah musafir yang menuju akhirat. Musafir tanpa tujuan perjalanan yang jelas tidak mencapai apa-apa, karena musafir tersebut tidak tahu apa yang ia tuju. Maka, untuk apakah Anda berada disini sekarang?

kelima, sekaligus penutup, bermajlislah dengan orang-orang yang sholih. Berada bersama orang yang berilmu  lebih baik dari kita menginspirasi kita untuk meningkatkan kemampuan diri, berada bersama orang yang berilmu kurang dari kita menyemangati kita untuk menyebar kebaikan, sekaligus menjadi sarana tulusnya niat untuk tidak takabur.
______
Semoga Allah merahmati pertemuan kita, dan semoga Allah menjaga kita dalam iman dan islam, aamiin.
^^

Thursday, June 14, 2012

Dosa Menyebabkan Lupa

0

Imam adh-Dhahhak (wafat th. 102 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidaklah seseorang mempelajari Al-Qur-an kemudian ia lupa, melainkan disebabkan dosa.” Beliau lalu membaca firman Allah,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy-Syuura: 30]

Kemudian beliau melanjutkan, “Musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan al-Qur-an?”

___________________
___________________
Nemu ini di sebuah artikel, sungguh menohok sekali
ighfirlii yaa robb, sungguh diri ini tak luput dari banyak salah dan lupa.. :'(

sumber kutipan:
http://almanhaj.or.id/content/3277/slash/0

Monday, April 23, 2012

Introspeksi dan Pujian

0

source: http://leilockheart.tumblr.com/post/3208637017/by
Introspeksi: penting!
M
engetahui bagaimana penilaian orang lain terhadap kita itu, buat saya kadang menarik tapi kadang gak perlu. Kadang-kadang bikin deg-degan, kadang bikin bingung, kadang bikin kita jadi bersyukur. Pendapat orang lain tentang kita, bisa jadi bahan untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Karena merugilah orang-orang yang keadaannya hari ini, sama atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin.


Saat mendapat feedback dari orang lain, kadang wujud dari masukan ini gak enak rasanya: komentar, cacian, atau hal lain yang mungkin buat sebagian orang bisa bikin sakit hati dan sakit telinga. Tapi percayalah, komentar atau bahkan cacian ini lebih bernilai daripada pujian. Apalagi, kalau komentar orang yang kita anggap negatif ini ternyata benar, maka sikap yang baik buat kita adalah: bersyukur dan beristighfar! Ya, syukuri keadaan ini, karena saat kita mendapat masukan, berarti orang-orang sekitar kita memperhatikan kita, menyayangi kita, dan ingin agar performa kita lebih baik di kesempatan berikutnya. Kita juga perlu beristighfar, memohon ampun pada Allah karena telah melakukan kesalahan, dan kalau kesalahan ini merugikan orang lain berarti kita juga perlu meminta maaf kepada orang tersebut.


Alhamdulillah, saya dipuji!
Eittss.. jangan merasa senang. Karena sesungguhnya pujian adalah ujian.  Memuji seringkali berarti membinasakan. Dan banyak orang baik yang tergelincir menjadi riya' karena pujian. Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang pujian terhadap orang lain, apalagi yang berlebihan dan dihadapan orang tersebut.

Abu Musa berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah صلي الله عليه وسلم lalu bersabda,
”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”- Shahih Bukhari
Kenapa gak boleh dipuji? Karena orang lain yang memuji kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita, sesungguhnya tidak mengetahui diri kita secara keseluruhan. Padahal, sebagai manusia biasa, kita pasti banyak dosa. Yang paling mengetahui baik-buruknya diri kita adalah kita sendiri (dan Allah tentunya). Kalaulah orang itu mengetahui seluruh keburukan dan kebaikan kita, masihkah dia memuji kita?


Do'a ketika mendapat pujian
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun. 

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)

____________________
sumber hadits dan do'a, saya ambil dari sini: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3752-gila-pujian-dalam-beramal.html


Monday, February 20, 2012

Barokillah? Kalimat bermakna do'a..

0


Kalimat Singkat yang bermakna Do'a (Barokallah bukan Barokillah)

Saling mendo'akan dalam kebaikan merupakan anjuran bagi setiap muslim. Kalimat sapa saat bertemu dengan sesama muslim juga merupakan do'a "Assalamu 'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh" yang artinya (Semoga) Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan diberikan kepada kamu. Lalu wajib dijawab "Wa 'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh" yang berarti dan (semoga) Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan diberikan kepada kamu. Malah, dianjurkan juga menjawab salam dengan kalimat yang lebih panjang. Disadari atau tidak, ketika kita terbiasa mengucapkan kalimat ini dalam menyapa saudara kita yang muslim, berarti kita mendoakan saudara kita. Tapi, kalau kalimatnya diganti dengan plesetan-plesetan bercanda jadi "ikum", "lamikum", dan lainnya, apakah masih menjadi doa?
Do'a lainnya adalah ketika medengar orang muslim lainnya yang sakit, kita mengucapkan "Syafakallah", "syafakillah" serta kalimat lain yang disesuaikan dengan posisi subjek orang yang sakitnya, kalau orang ketiga perempuan (dia/her) kita mengucapkan "Syafahallah". Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam ketika menjenguk yang sakit mengucapkan “Laa ba’sa thohuurun in syaa’allah” (tidak mengapa, semoga dapat membersihkan kamu (dari dosa) insya Allah) juga mendoakan "As alukalloohal-’azhiima, robbal ‘arsyil-’azhiimi, ayyasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu)
Bahkan, di saat-saat tertentu, muslim diajarkan untuk saling mendoakan dalam keberkahan dengan mengatakan "Baarokallah", yang bisa disesuaikan untuk siapa kalimat "Baarokallah" ini ditujukan. Kalau untuk orang yg sedang berbicara dengan kita (kamu) laki-laki, jadi "Baarokallah laka" atau "Baarokallah fiika". Kalau untuk orang yg sedang berbicara dengan kita (kamu) perempuan, kalimatnya jadi "Baarokallah laki" atau "Baarokallah fiiki". Kalau untuk sekelompok orang yg sedang berbicara dengan kita (kalian), kalimat ini jadi "Baarokallah fiikum" atau "Baarokallahu lakum", dan subjek lain yang sesuai.
Pernah denger atau liat tulisan "Baarokillah" "Baarokumullah" "Baarohallah" atau "Baarohumullah" ?
Saya bukan pakar bahasa Arab, juga tidak memahami bahasa arab. Tapi yang saya tau, kalimat   "Baarokillah" "Baarokumullah" "Baarohallah" atau "Baarohumullah" bukan kalimat yang benar untuk do'a Baarokallah bagi kamu perempuan, kalian, dia, ataupun mereka. Kalau ditela'ah dari struktur bahasa arab, Baroka atau Barokah adalah satu kata tanpa domir/subjek. Simplenya, di Bahasa Indonesia kita mengenal kata "keberkahan" yang asal katanya adalah "berkah" atau "barokah", tapi kita tidak mengenal kata "berkih" "berkum" "barokih" atau "barokum". Iya, kan?
Kata "Baarokallah" bermakna do'a, tapi Barokillah dan kawan-kawannya yang saya sebut tidak bermakna do'a, atau bahkan mungkin tidak ada maknanya dalam bahasa arab. Supaya kalimat-kalimat ini tetep bernilai do'a, supaya tetep mengikuti Sunnah Nabi Shollallahu 'alaihi wa sallam untuk saling mendoakan, Ayo kita perbaiki kalimat-kalimat do'a ini :D

Wednesday, November 16, 2011

Dimanakah Tuhan Berada?

0

dari http://thebeautyofislam.tumblr.com

  • atheist: God exists?
  • Imam: yes
  • athesit: then where is God?
  • Imam: show me where He isn't, and I'll show you where He is.
  • ______________

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

(Qur'an, Al-a'raaf, ayat 54) “Sungguh, Tuhan kalian adalah Allah, yang menciptakan semua langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”

Tuesday, November 15, 2011

Sunday, October 16, 2011

Monday, February 7, 2011

Iri yang benar

0

"Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Shahih Muslim No.1352)

Saturday, January 1, 2011

Cahaya dan Kegelapan

0

Cahaya dalam Gelap, (diambil diatas kereta)

الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

 (Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat)
_____________________________________________

Suatu hari, Imam Asy-Syafi'i mengadukan kesulitan belajar pada gurunya, Imam Waki'. Beliau berkata,
Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?

lalu dengan begitu bijak, Imam Waki' berpesan kepada Imam Asy-Syafi'i,
"ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli (orang yang bermbuat .pen) maksiat."
 Pesan ini kemudian menjadi begitu terkenal. Bahkan ada pula yang menambahkan pesan ini dengan

وَ الْجَهْلُ ظَلَامّ

 (dan bodoh itu kegelapan)

Friday, December 17, 2010

How Allah answers our prays?

0

"Allah gives you answers in three ways: He says yes and gives you what you want, He says no and gives you something better, or He says wait and gives you the best."
al-asaatidz CMBBS
___
kalimat ini umum dan banyak orang yang tau, tapi saya dapatnya dari asatidz waktu di SMA :)

Friday, December 10, 2010

Friday, July 9, 2010

Mutiara, wanita yang terjaga

0


“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli; laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Terjemah Al Qur-an surat Al-Waqi’ah ayat 22-23)
Perihal bidadari bermata jeli dan terjaga seperti mutiara yang tersimpan baik ini, dibahas beberapa kali di dalam Al-Qur’an, salah satunya juga di surat Ath-Thuur.

Bagaimana dengan manusia?
Apapun yang spesial tentunya yang tidak dilihat orang banyak, dijaga, dapat perlakuan istimewa, sehingga menjadi terasa beda dalam makna kebaikan, lebih baik ataupun terbaik.

Saat dirimu bukanlah bidadari surga, kenapa tidak menjadi manusia spesial yang terjaga?

menjadi لوءلوء المكنون…