Showing posts with label selftalk. Show all posts
Showing posts with label selftalk. Show all posts

Monday, July 13, 2015

Tegarlah :)

1

Saat hari-hari terasa berat, aku hanya berpikir tentang dua kemungkinan: Allah menginginkanku berupaya lebih gigih atau Allah mengingatkanku bahwa aku salah memilih..

إن مع العسر يسرا

Duhai jiwa yang lemah, semoga dirimu terus mendekat pada-Nya Yang Maha Kuat

Sunday, November 16, 2014

some #speechless moment

0

Ada banyak kesempatan saat saya merasa tak tahu kata-kata apa yang layak saya ucapkan dan perbuatan apa yang harus saya lakukan

Saat-saat kecemasan, kasih sayang, perhatian, kekhawatiran, dan keinginan protes menjadi satu

Sayangnya, mungkin ini hanya terjadi ketika saya berada di rantau

diantara waktu semua itu terjadi adalah, saat melihat wajah kedua manusia terkasih yang letih setelah menempuh perjalanan hadir di hadapan, dengan senyum tulus ikhlas penuh cinta dan melafalkan salam

waktu kunjungan yang singkat hanya beberapa jam, yang kadang hanya bertujuan memastikan kondisi saya dalam keadaan sehat tak kekurangan, mengantar barang penting yang tertinggal di rumah saat akan kembali ke rantau, beralasan iseng berdua di rumah dan berniat jalan-jalan

dan saat terberat adalah saat saya merasa mencium punggung tangan keduanya berkali-kali dan mengucap salam tidaklah cukup untuk mengantar, juga rasa berat yang melanda tatkala melihat kendaraan yang membawa keduanya bergerak menjauh, saat punggung keduanya perlahan tak terlihat

hingga akhirnya hati hanya bisa mengalunkan doa pada Rabb Yang Maha Agung, berharap dua orang terkasih ini sampai selamat kembali ke rumah, tanpa kurang satu apapun..

Terimakasih untuk semua cinta, ketulusan, kasih sayang, perjuangan dan pengorbanan, duhai Ibu dan Bapak, anakmu hanyalah penutur doa yang meminta surga firdaus untuk kalian pada Allah :')

Thursday, December 26, 2013

Catatan Kerinduan

0

kerinduan itu sungguh tak bisa diobati selain dengan perjumpaan,
dan teknologi yang ada sesungguhnya bagiku hanya memperpanjang kesabaran untuk memupuk rasa rindu itu,
dan saat rindu itu semakin besar, akan begitu banyak kalimat-kalimat doa membumbung indah teucap dengan keteguhan hati, dilayangkan untuk-Nya pada 'arsy Nya yang agung..

kerinduan kami pada tempat itu, bukanlah karena kecintaan pada dunia-Nya, dan Dia sungguh Maha Mengetahui akan hal itu. Maka  dalam diam kami berdoa, di waktu yang mustajab kami berdoa, dalam susah kami berdoa, harap kami pada kemurahan hati-Nya agar Ia dengan sifatnya Yang Maha Pemurah membukakan jalan bagi kami mengunjungi tempat itu...
al-haramain, dan menjawab panggilan-Nya dengan sahutan yang indah... "Labbaik Allahumma Labbaik.."

Wednesday, July 24, 2013

senyum

0

aku kadang tersenyum, karena aku bahagia. Karena sulitnya menutupi kebahagiaan tanpa dibagi. Seperti hari itu, hari dimana orang-orang banyak melantunkan surat Al-Kahfi, ketika berita itu sampai dan... semua terasa bersinar.

aku kadang tersenyum, untuk mengisi kebingungan. Karena aku tak tahu apalagi yang bisa diekspresikan selain senyum, mungkin ini yang termudah saat bingung tak punya bahan pembicaraan. Seperti hari itu, hari dimana pria yang kubanggakan -bapakku- bertemu dengan para penyalur ilmu pengetahuan bagiku di ruangan itu. Tatkala aku bingung hendak berkata apa, ketika mendengar berita Februari. ah, bulan yang manis kendati aku tak memiliki apa-apa.

aku kadang tersenyum, untuk menghilangkan kegundahan. seperti halnya kemarin, saat aku tak memahami sepenuhnya pesan yang aku dapatkan. Entah kenapa rasanya gundah, saat tak tahu itu sebuah tanda jeda, koma, ataukah titik akhir begitu saja.

aku kadang tersenyum, untuk menutupi raut wajah yang meringis menahan tangis. Entahlah, mungkin ini adalah obat terbaik atas kepedihan. disini, saat aku enam hari lalu membubuhkan harapan..

Saturday, April 20, 2013

di saat aku marah...

0

Aku mencoba bertanya pada diri,
Sungguhkah aku marah?
Dan kudapati sungguh aku marah,
Tapi bukan kepada hamba-hamba Allah diluar sana
Aku marah atas lemahnya diri,
Aku marah atas kelalaian pribadi,
Ya, aku marah pada diriku sendiri
Duhai Allah, maafkan hamba-Mu ini

Sunday, April 7, 2013

Wednesday, January 23, 2013

Kuliah Lagi

2


Sungguh,
Saya bukan gak mau kuliah di luar negeri;
Saya bukan sudah tidak lagi haus ilmu,
Saya bukan sok menjaga pandangan dari poster dan pengumuman itu
Saya bukan sombong dan merasa diatas level dari tawaran yg datang ke saya itu,
Saya bukan takut dan gak PD untuk mendaftar atau mengnontak profesor disana-sini
Saya masih haus ilmu,
saya masih ingin merasakan nikmatnya belajar,
saya masih penasaran dengan rasanya mendapat kuliah langsung dari para penulis buku itu,
entah di madinah, makkah, jerman, australia, jepang, china, atau entah belahan dunia mana
Saya hanya punya satu persyaratan: bersama mahram
itu saja,
:)
saya tau, kesempatan seperti itu tidak datang setiap saat,
tidak semua orang dapat,
tapi kesempatan, buat saya itu dibuat dan diatur,
dan saya menitipkan itu pada Yang maha Mengatur, Allah
cukup Allah

Friday, January 4, 2013

Tsabat dalam menghafal Al-Quran

0

Kamis, 27 Desember di waktu akhir dhuha,

Kegiatan hari itu telah dicukupkan, seorang ustadzah yang masih muda dan energik berpesan kepada para muridnya. Pesan itu disampaikan dengan singkat, namun tegas dan penuh makna, sesuai kepribadian beliau. Pesan itu tentang 'ats-tsabat', yaitu teguh hati, sabar, tabah, tidak mudah bosan dan tidak mudah marah. Satu kata tsabat itu saja sudah begitu banyak maknanya. Ats-tsabat yang disampaikan ustadzah kali ini adalah ats-tsabat dalam menghafal Al-Quran. Yang saya tulis berikut ini merupakan petikan dari yang disampaikan beliau,
_______
Ahlan wa sahlan. sahlan dalam bahasa arab jika dengan tulisan yang benar, bermakna mudah. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, termasuk dalam menghafal Al-Quran.

Ats-tsabat dalam menghafal Al-Quran sangat diperlukan. Ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan mengenai ats-tsabat ini.

Yang pertama, teruslah memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Memohonlah agar Allah meridhoi kita dalam menghafal kalamullah yang ada di Al-Quran. Al-Quran adalah fondasi ilmu, ilmu itu milik Allah, maka mintalah kepada Allah, hanya Allah saja. Memohonlah tanpa meminimalisasi keinginan, karena sesungguhnya tak ada yang tak mungkin bagi Allah, dan keinginan manusia itu, apalagi dalam kebaikan, sesungguhnya mudah bagi Allah.

Kedua, beribadahlah dengan tidak berorientasi pada hasil. Saat bibit disemai kemudian tumbuh dan siap dipanen, janganlah melihat apa yang dipanen, tapi perhatikan bibit yang ditanam, proses yang dilakukan, baru kemudian berharap hasil panen menjadi sangat baik. Begitupula ibadah, tetapkan niat lalu teguhkan, perhatikan syarat sah dan rukun dari ibadah tersebut, perhatikan detail keberterimaan amal, lalu lakukan dengan sungguh-sungguh, ikhlas-murnikan keesaan Allah.

Ketiga, menyebarkanhidayah Al-Quran. Hidayah itu datangnya dari Allah, dan diberikan oleh Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Tapi, melalui Al-Quran beserta ilmu di dalamnya, dan pengamalan yang mengikuti tuntunan agama yang lurus, raihlah kesempatan untuk menjadi perantara orang-orang menerima panggilan ke jalan Allah.

yang keempat, jelaskan tujuan. Kejelasan tujuan merupakan hal yang penting, karena hidup ini adalah perjalanan dan kita adalah musafir yang menuju akhirat. Musafir tanpa tujuan perjalanan yang jelas tidak mencapai apa-apa, karena musafir tersebut tidak tahu apa yang ia tuju. Maka, untuk apakah Anda berada disini sekarang?

kelima, sekaligus penutup, bermajlislah dengan orang-orang yang sholih. Berada bersama orang yang berilmu  lebih baik dari kita menginspirasi kita untuk meningkatkan kemampuan diri, berada bersama orang yang berilmu kurang dari kita menyemangati kita untuk menyebar kebaikan, sekaligus menjadi sarana tulusnya niat untuk tidak takabur.
______
Semoga Allah merahmati pertemuan kita, dan semoga Allah menjaga kita dalam iman dan islam, aamiin.
^^

Sunday, October 21, 2012

-untitled-

0

Salah satu 'mood booster' terbaik adalah.. mendengar suara orangtua di seberang telepon sana.
___
Ayo semangat mengerjakan semua tugas dan kewajiban ini, Diiin!
Laa yukallifullaha nafsan illaa wus'ahaa :)

Saturday, October 20, 2012

Mengingat kematian

0


Tepat satu minggu yang lalu, 13 Oktober 2012, beberapa saat setelah waktu Maghrib, merupakan masa terakhir Nde’ (panggilan untuk Kakak dari Ibu, sepertinya diadaptasi dari Pakde) merasakan kehidupan fana dunia. Beliau wafat di usia sekitar 58 tahun, dengan meninggalkan seorang istri, seorang anak laki-laki, dan tiga orang anak perempuan. Beliau meninggal di rumah sakit, disaksikan oleh begitu banyak sanak family, bahkan anak dan cucu dari Kakek-Nenek saya yang banyak, hanya ada 1 orang cucu Kakek-Nenek yang tidak dapat melihat Nde terakhir kali.
Kematian adalah sebuah kepastian yang tak tertolak. Ini berlaku untuk saya, kamu, dia, mereka, kalian, yah kita semua. Hanya masalah waktu, kan? Kita tidak tau siapa yang akan menghadap Allah lebih dulu. Tua tak jadi jaminan akan berpulang duluan, karena yang muda pun banyak yang mendahului para tetua. Sehat tak jadi garansi hidup masih lama, karena yang sakit berpuluh tahun pun banyak yang didahului oleh yang hidupnya sehat. Waktu kematian adalah rahasia Allah yang terjaga.
Kematian orang lain yang meninggal selagi kita masih diberi kesempatan hidup adalah sebuah alarm, pengingat bahwa kita juga akan berpulang. Pulang ke kampung halaman, semua orang ingin bawa bekal banyak untuk sanak-keluarganya, maka begitu pula seharusnya setiap orang yang berpulang pada Tuhannya, ke tempat asal manusia itu terbuat. Maka, sudah sejauh mana persiapan kita? Sudah cukupkah bekal kita? Padahal kita bisa pulang kapan saja, entah setelah memiliki cucu, atau ketika baru memiliki anak satu, atau kapan tepatnya. Jadi, kapan kita akan bersiap?
Saat ada ajakan mencoba ini-itu, kesana-kemari, bersenang-senang dengan berbagai alasan, sesungguhnya orang yang diajak dan tidak mau itu bukan berarti tak mau bersenang-senang, bukan kelewat serius berpikir. Tapi orang itu mungkin tak ingin, saat Malaikat izrail menunaikan tugasnya, orang itu di tempat keramaian yang tidak memiliki nilai manfaat untuk masa hidupnya di akhirat. Orang itu juga tak mau, kalau kontrak hidupnya itu habis, disaat dia sedang melakukan kegiatan yang tak menambah berat timbangan amal baiknya di hari perhitungan amal, kelak. Orang itu juga tak sanggup, untuk membayangkan betapa dia akan kerepotan menjawab pertanyaan malaikat di dalam kubur nanti, jika kelak ibadahnya, amal, ilmunya tak cukup.
Setiap kematian, hendaknya mengingatkan kita..bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan, ditanyakan lah nanti
untuk apa titipan rizki dari Allah digunakan? untuk kemanfaatan atau pemuas keinginan duniawi semata
apakah setiap bagian jasad ini diberi makan dengan sumber yang halal ataukah haram?
apakah waktu yang diberikan oleh Allah semasa hidup digunakan untuk amalan yang baik, atau yang buruk? untuk yang berpahala, ataukah berdosa? untuk yang bermanfaat, ataukah bahaya?
Kematian juga pengingat.. bahwa seramai dan hingar-bingar apapun kehidupan kita di dunia, lihatlah… dikubur, kita hanya sendiri. Menjawab pertanyaan malaikat kubur hanya ditemani keimanan dan amal.
Mengingat mati adalah mengambil pelajaran, bahwa hakikatnya hidup hanya perlu kata ‘cukup’, bukan lebih. Tak perlulah bermewah dalam hidup kalau tujuannya untuk pemuas, karena sejatinya yang dibutuhkan diri hanya cukup. Semegah apapun rumah di dunia, rumah yang kekal ternyata hanya ‘cukup untuk berbaring satu badan’ saja.
_____
ditulis oleh saya, yang juga masih harus banyak berbekal

Tuesday, October 2, 2012

tentang istiqomah dengan keputusan

0

Saat sudah memilih suatu pilihan dan membuat keputusan..
saat berusaha memantapkan hati dengan keputusan yg dibuat..
godaan datang dengan se-goda-godanya (hehe, gatau padanan kata yang tepat apa)
istiqomah itu emang susah luar biasa,
sampai-sampai dikatakan, 'istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah'

beasiswa s2 eropa... sekarang lagi pada open application,
.
.
.
.
#godaankeputusan

Thursday, September 20, 2012

Wednesday, September 12, 2012

Monday, August 27, 2012

Allah, ini adalah kegalauan seorang hamba-Mu

0

Saat orang-orang bilang galau itu gak penting, saya merasa galau itu sifatnya penting-gak penting, relatif. Banyak orang yang menganggap kata galau hanya serasi untuk hal-hal yang berkaitan dengan perasaan hati-nikah-pasangan dan sejenisnya saja. Kalau lah itu benar, maka saya tidak punya padanan kata yang enak digunakan untuk mendeskripsikan apa yang sedang mengganggu pikiran saya.

Yup, saya GALAU.

Tiba-tiba saja pikiran itu terus membayangi saya, mengenai kehidupan jauh di masa yang akan datang. Bukan, bukan tentang impian seorang pemudi yang ingin menjadi ibu, mengasuh anak, berumahtangga dan sebagainya. Karena kalau galau ini tentang itu, ah, bahkan saya tak tahu sampaikah umur saya nanti ke tahap itu (Meski saya berharap Allah berkenan memberi nikmat panjang umur dalam kebaikan dan kemanfaatan untuk melakukan dan melalui masa itu juga, hehe).

Galau ini.. adalah galau menegenai kehidupan di masa depan yang pasti akan dilalui setiap manusia, mengenai kehidupan yang tak lagi fana, di akhirat sana. Setelah ajal menjemput, saat buku amal ditutup, pena diangkat, amalan dihisab, lalu kehidupan alam kekal dijalankan, akan seperti apakah kehidupan saya? Berbahagiakah (semoga) atau berada dalam golongan orang yang merugi (a'udzubillahi min dzalik)? Cukupkah dan pantaskah bekal ini untuk di akhirat menemui Allah nanti? Segala hal yang saat ini saya lakukan dan saya kira sebagai ibadah, benarkah tidak ternodai? benarkah ibadah saya ini karena Allah - lillahi ta'ala? Padahal, sungguh, hati ini begitu lemah, mudah terjerumus dalam riya' dan sum'ah, entah dirasa ataupun tidak, spontan atau terbersit dalam hati, sengaja atau tidak disengaja. Meski dalam hati selalu berusaha mengingat Allah dan menekankan pada diri sendiri untuk tidak berharap balasan selain keridhoan Allah, tapi cukup kuatkah iman dan akhlak ini ketika diuji dengan kenikmatan dan pujian? Padahal hanya sedikit orang yang berdoa kepada Allah mohon imannya dikuatkan saat menerima cobaan yang berupa kenikmatan, apakah saya termasuk orang itu?

Saat amalan manusia diperlihatkan di hari akhir nanti, Saya, seorang hamba Allah yang pasti banyak salah dan dosa. Saat di dunia Allah melindungi saya dengan menutupi aib-aib saya, tapi di hari hisab dan pembalasan nanti... sungguh, tak satu pun dari kita yang tau.

Ya Allah, sungguh hamba-Mu ini lemah, sungguh hanya kepada Engkaulah kami kembali, dan sungguh pada hari yang Engkau tentukan itulah amalan-amalan dihisab, sebagaimana yang tlah Engkau janjikan,

Ya Rahmaan, saat catatan amalan itu diberikan, maka izinkalah hamba untuk menerimanya dengan tangan kanan dari sebelah kanan, kemudian termasuk dalam golongan hamba-Mu yang berbahagia dengan keluarga di syurga. Janganlah Engkau menjadikan hamba bagian dari hamba-Mu yang menerima catatan amal dari belakang punggungnya, lalu menyesal di hari itu.

Ya Rohiim, hisab pada setiap makhluk itu pasti adanya, maka hisablah aku dengan hisab yang ringan, dan tutupilah aib-aib sebagaimana Engkau berkenan menutup aib di dunia....

Thursday, July 19, 2012

Mohon ingatkan saya, saat saya lupa

0

Sebagai insan yang dewasa, suatu hari, saya mungkin lupa dengan apa yang pernah saya katakan. Suatu waktu, mungkin saya lupa dengan apa yang tidak saya sukai. Suatu saat, mungkin saya lupa dengann apa yang saya hormati. Suatu masa, mungkin saya akan lupa melakukan hal-hal yang saya hindari.

Hari ini saya bisa bilang, saya tidak suka dengan orang yang picik. Saya berdoa kepada Allah dan berusaha menghindari sifat picik. Tapi, bukankah tetap memungkinkan, suatu hari, ada orang yang berpikir saya picik?
Kali ini saya katakan, saya tidak suka dengan orang egois dan temperamen. Saya beusaha sebisa mungkin tidak menjadi orang dengan karakter yang egois dan temperamen. Tapi suatu waktu, mungkin saja saya tetiba menjadi begitu egois dan temperamental. Saat ini saya tidak suka dengan gosip. Tapi, bukankah saya dapat dengan mudahnya ikut bergosip tanpa sadar?

Menyadari diri sebagai pribadi yang (pasti) masih banyak khilaf, salah, dan melakukan apa yang sebetulnya tidak disukai, bukankah sangat wajar jika suatu hari ada orang disekitar saya yang mengingatkan? Oleh karena itu, teman, siapapun anda yang membaca ini dan mendapati saya melakukan hal-hal yang saya tidak sukai dan Allah tidak sukai, mohon ingatkan saya, dan juga ingatkan saya untuk menerima peringatan itu dengan hati yang lapang.

:)

Thursday, June 14, 2012

Dosa Menyebabkan Lupa

0

Imam adh-Dhahhak (wafat th. 102 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidaklah seseorang mempelajari Al-Qur-an kemudian ia lupa, melainkan disebabkan dosa.” Beliau lalu membaca firman Allah,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy-Syuura: 30]

Kemudian beliau melanjutkan, “Musibah apakah yang lebih besar daripada melupakan al-Qur-an?”

___________________
___________________
Nemu ini di sebuah artikel, sungguh menohok sekali
ighfirlii yaa robb, sungguh diri ini tak luput dari banyak salah dan lupa.. :'(

sumber kutipan:
http://almanhaj.or.id/content/3277/slash/0

Sunday, May 6, 2012

:'(

0

Aku berlindung kepada Allah dari butanya mata hati atas jalan kebenaran, tulinya telinga dalam mendengar kebaikan, dan tajamnya lisan yang merendahkan...
___________
selftalk

Saturday, April 28, 2012

Iri

0

beberapa kilo byte dari hati saya hari ini sesungguhnya diisi dengan rasa iri. Dan entah berapa mega byte telinga saya yang ikut merasa iri lalu menyampaikannya ke hati. Saya iri mendengar cerita teman-teman yang bersua dalam kajian di masjid ipb hari ini. Saya iri mendengar cerita teman-teman yang bertemu dalam sebuah pelatihan di ui hari ini. Dua kegiatan yang sedianya saya hadiri salah satunya hari ini, sebelum menerima kabar beberapa hari lalu bahwa saya ada kuliah dan praktikum.

Dengan sadar dan jujur, saya mengaku bahwa saya iri. Hingga zhuhur tadi, rasa iri itu makin menjadi-jadi. Iri yang bertemu dengan penat dan tekanan tumpukan kewajiban yang mendadak datang di akhir semester, membuahkan perasaan jenuh dan sangat ingin berganti suasana. Rasa jenuh itu kemudian bertindak pongah, mengetuk pintu hati dan seolah berkata "hilangkan aku!"

Sampai akhirnya, Allah menyadarkan saya betapa iri itu tak sepatutnya begitu mendera, dan kejenuhan tak layak menjadi teman saya hari ini. Saya memang berkali-kali gagal mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang telah saya rencanakan, tapi bukan berarti saya harus merasa jenuh dengan apa yang saya jalani. Bukankah yang saya datangi hari ini (praktikum dan kuliah) juga bagian dari mencari ilmu? Saat saya merasa ada waktu penyegaran yang tersita, bukankah dosen saya juga mengorbankan waktu bersama keluarganya untuk kami para mahasiswa? Atau mungkin, bisa saja waktu untuk kuliah hari ini beliau gunakan untuk mengerjakan proyek yang bernilai buat beliau, tapi lihatlah.. beliau memilih mengisi waktu ini bersama kami, mahasiswa. Saat saya datang ke kelas dengan perasaan jenuh, saya membandingkan dengan apa yang dosen saya lakukan; beliau datang membawa makanan untuk dinikmati bersama kami di kelas. Beliau paham, ini adalah akhir pekan, jadi beliau tau bahwa kebahagiaan itu bisa dibagi dan ditularkan. Maka senyum satu-satu terlihat di wajah orang-orang sekitar saya, lalu menyudut di wajah saya, menggurat lengkungan senyum. Saya paham, rasa yang menyelusup lalu membuat senyuman itu bernama kebahagiaan. Bahagia ini bukan ditumbuhkan sepotong kue, tapi karena sebuah makan kebersamaan.

Kau tau, kawan? Saat beban yang kau emban ini terasa begitu berat sendirian, kadang memang tak dapat kau bagi. Tapi ibarat nyeri otot akibat konstraksi berkepanjangan tanpa relaksasi, ada balsam, minyak gosok, atau bahkan terapi air panas yang dapat merelaksasi otot kita agar beban yang dipikul ini terasa nyaman untuk diemban. Jadi, saat merasa kau tak tahan, jenuh, jengah, muak, atau apapun kau menyebutnya.. buat kebahagiaan di wajah orang sekitarmu, lalu jenuh yang tadi menyeruak itu perlahan atau sekaligus akan sirna.

Makin banyak detik yang Allah pinjamkan pada saya, dan semakin banyak juga pelajaran yang saya dapatkan kenapa agama Allah ini mengajarkan begitu banyak cara berbagi, melalui seorang uswah hasanah - Rasulullah Muhammad Shollallahu 'alaihi wa salam.

Thursday, April 26, 2012