Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

some #speechless moment

0

Ada banyak kesempatan saat saya merasa tak tahu kata-kata apa yang layak saya ucapkan dan perbuatan apa yang harus saya lakukan

Saat-saat kecemasan, kasih sayang, perhatian, kekhawatiran, dan keinginan protes menjadi satu

Sayangnya, mungkin ini hanya terjadi ketika saya berada di rantau

diantara waktu semua itu terjadi adalah, saat melihat wajah kedua manusia terkasih yang letih setelah menempuh perjalanan hadir di hadapan, dengan senyum tulus ikhlas penuh cinta dan melafalkan salam

waktu kunjungan yang singkat hanya beberapa jam, yang kadang hanya bertujuan memastikan kondisi saya dalam keadaan sehat tak kekurangan, mengantar barang penting yang tertinggal di rumah saat akan kembali ke rantau, beralasan iseng berdua di rumah dan berniat jalan-jalan

dan saat terberat adalah saat saya merasa mencium punggung tangan keduanya berkali-kali dan mengucap salam tidaklah cukup untuk mengantar, juga rasa berat yang melanda tatkala melihat kendaraan yang membawa keduanya bergerak menjauh, saat punggung keduanya perlahan tak terlihat

hingga akhirnya hati hanya bisa mengalunkan doa pada Rabb Yang Maha Agung, berharap dua orang terkasih ini sampai selamat kembali ke rumah, tanpa kurang satu apapun..

Terimakasih untuk semua cinta, ketulusan, kasih sayang, perjuangan dan pengorbanan, duhai Ibu dan Bapak, anakmu hanyalah penutur doa yang meminta surga firdaus untuk kalian pada Allah :')

Friday, October 4, 2013

Thursday, September 12, 2013

Cumlaude di Hati Bapak

0

Bandung, 13 Juli 2013

Allah lah yang memalingkan, membolak-balik hati manusia. Begitu pun hati saya, hingga akhirnya tulisan ini dapat dibuat. Karena jika saya memantapkan pilihan 3,5 tahun yang lalu, tulisan ini tentunya akan berisi kalimat yang berbeda dan diwaktu yang berbeda :)

Hari ini, pagi hingga siang tadi, saya baru saja melalui prosesi sidang terbuka wisuda sarjana di Sabuga. Yup, Alhamdulillah, atas pertolongan dan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala, saya merasakan diwisuda, lulus dari ITB 'melalui' Sabuga. Setelah waktu TPB dulu, setiap ada prosesi wisuda, saya dan teman-teman kadang berceloteh "kita juga nanti keluar dari ITB dari sabuga, jangan dari annex ya".

Dan wisuda ini, salah satunya adalah hasil dari pembalikan hati.
Sekitar 3,5 tahun yang lalu, saya menerima indeks prestasi belajar saya yang pertama di ITB. Hasilnya? Bagi saya, tidak memuaskan.

Setelah lama berpikir, dilatarbelakangi perasaan 'gak klop' dengan kuliah yang dijalani, ketidakyakinan bisa bertahan dan memperbaiki keadaan, masih penasaran dengan jurusan-jurusan lain yang saya minati tapi tidak saya ambil saat memilih ITB, dan beberapa alasan lain saya akhirnya memberanikan diri berkata pada Ibu dan Bapak, "Pak, Bu, teteh mau pindah kuliah.."

Belum selesai kalimat saya saat itu, Ibu memotong, "bukannya dulu teteh yang mantap pilih kuliah di bandung daripada di jogja?". Saya bisa menebak kemana arah kalimat Ibu dan Bapak saat itu, saya yakin bukan marah yang akan saya terima, tapi pertanyaan-pertanyaan. Yang ditanyakan Bapak pertama saat itu, "apa teteh yakin kalau pindah kuliah bisa jadi lebih baik? apa teteh bisa menjamin diri teteh sendiri bakal survive dan nyaman, apa yang bisa Bapak pegang untuk jaminan janji teteh?". Ah, dua pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah terpikirkan tapi tak mampu saya jawab selama memikirkan ini. Saya ingat, tidak ada jawaban yang saya buat, hanya sajadah dan mushaf Bapak yang bersaksi bisu di mushola saat itu. Melihat saya diam dengan lisan kelu, Bapak akhirnya berpesan, "lanjutin lagi aja istikhorohnya".

Beberapa hari kemudian Bapak mengajak saya makan di teras rumah. Saya tau, ada hal penting yang Bapak ingin bicarakan dengan gaya yang dibuat santai sambil makan siang ini. Saya tidak berani memulai percakapan, lalu Bapak memulainya.

"teh, yakin gak ngerasa rugi kalau pindah kuliah? Bukan biaya yang Bapak-Ibu permasalahin, karena sebagai orangtua, ngeliat anak ngejalanin apa yang gak disukain itu rasanya perih. Uang itu bisa dicari, rizki Allah luas. Bukan juga waktu kamu yang bakalan satu tahun seolah mengulang kuliah. Tapi Bapak sama Ibu yakin, teteh cukup kuat untuk bisa beradaptasi, karena selama ini juga teteh bisa menyelesaikan masalah-masalah teteh dengan baik"

saya menghela nafas, menunggu kalimat Bapak berikutnya.
"Bapak sama Ibu gak menuntut aa-teteh-Dinda jadi juara kelas, IP luar biasa, lulus cumlaude, dan hal duniawi lainnya. Bapak cuma yakin, setiap ilmu itu bermanfaat kalau benar dan diamalkan. Anak-anak Bapak itu sudah cumlaude dihati Bapak, selalu.  Yakin sama ikhlas aja, benerin niatnya untuk dapat ilmu, terus ilmunya bermanfaat, berapapun nilai dunia nya. Yang Bapak gak rela itu kalau kalian berilmu tapi jauh dari agama, lalu durhaka dan memberatkan siksa atas tanggungjawab Ibu Bapak waktu kiamat. Hasil istikhoroh Bapak, kamu lanjutin aja kuliahnya, niatkan selalu untuk ikhlas, nanti Allah kasih balasan untuk keikhlasannya"

Anak-anak Bapak itu sudah cumlaude dihati Bapak, selalu.

Bapak berhenti sejenak, lalu meneruskan,
"Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Dimanapun menuntut ilmunya, kalau bermanfaat dan benar, gak melupakan belajar ilmu agama, dan gak membuat kita berpaling dari agama Allah, insya Allah ada kemuliaan disisi Allah"

Wacana pindah kuliah itu berhenti sampai disitu. Kata-kata "Anak-anak Bapak itu sudah cumlaude dihati Bapak, selalu" dan hadits yang disampaikan Bapak saat itu yang memalingkan hati saya dari kecondongan pindah kuliah jadi melanjutkan. Dan hari ini, saya sangat bersyukur pernah mengalami hari-hari itu, hingga mendapatkan kalimat super dari Bapak. Alhamdulillahi robbil 'alamiin, berbekal ridho Allah dan ridho orangtua, tugas belajar sarjana purna sudah. Apakabar nilai saya? Ya, kadang sangat baik, kadang baik, dan kadang cukup. Allah Maha Tahu, karena mungkin saya belum cukup tangguh untuk mendapat ujian atau kenikmatan nilai luar biasa, maka saya diuji dan diajarkan merasakan nilai istimewa hingga biasa-biasa saja, tanpa pernah gak lulus suatu mata kuliah. Setidaknya, dengan memilih 'menetap' di kampus ini, saya bertemu dengan keluarga-keluarga baru: Teman-teman kosan, teman-teman MG'09, keluarga IMMG, teman-teman keluarga PM KM, kerabat plurker, teman-teman MTQ, teman-teman muslim-muslimah, serta banyak orang lain yang memberikan inspirasi dengan terlebih dahulu menjadikan ilmu yang ada pada mereka bermanfaat.

Dan kalimat Bapak itu, akhirnya kembali Bapak ucapkan saat memberikan sambutan mewakili orangtua mahasiswa pada acara syukuran wisuda Teknik Metalurgi Juli 2013 "Anak saya tidak cumlaude, tapi Dini selalu cumlaude di hati Bapak.." ahaha, pastilah airmata saya meleleh saat itu kalau gak ditahan. Saya tidak tau Bapak ingat atau tidak bahwa beliau pernah mengucapkan semua ini, tapi catatan ini menunjukkannya begitu.

duhai Allah Yang Maha Pengasih dan Pemberi Kasih, Yang Membolak-balik hati manusia, mantapkan hati kami untuk selalu berjalan pada agama-Mu, dan jadikan semua ini bermanfaat. Sayangilah kedua orangtua kami, ampuni dosa keduanya, sebagaimana keduanya mengasihi dan mendidik kami diwaktu kecil


*tulisan ini dipindahkan dari catatan pribadi, di post pada 12 September 2013

Wednesday, July 24, 2013

senyum

0

aku kadang tersenyum, karena aku bahagia. Karena sulitnya menutupi kebahagiaan tanpa dibagi. Seperti hari itu, hari dimana orang-orang banyak melantunkan surat Al-Kahfi, ketika berita itu sampai dan... semua terasa bersinar.

aku kadang tersenyum, untuk mengisi kebingungan. Karena aku tak tahu apalagi yang bisa diekspresikan selain senyum, mungkin ini yang termudah saat bingung tak punya bahan pembicaraan. Seperti hari itu, hari dimana pria yang kubanggakan -bapakku- bertemu dengan para penyalur ilmu pengetahuan bagiku di ruangan itu. Tatkala aku bingung hendak berkata apa, ketika mendengar berita Februari. ah, bulan yang manis kendati aku tak memiliki apa-apa.

aku kadang tersenyum, untuk menghilangkan kegundahan. seperti halnya kemarin, saat aku tak memahami sepenuhnya pesan yang aku dapatkan. Entah kenapa rasanya gundah, saat tak tahu itu sebuah tanda jeda, koma, ataukah titik akhir begitu saja.

aku kadang tersenyum, untuk menutupi raut wajah yang meringis menahan tangis. Entahlah, mungkin ini adalah obat terbaik atas kepedihan. disini, saat aku enam hari lalu membubuhkan harapan..

Wednesday, January 23, 2013

Tetap Semangaaat!

0


Jika cobaan sepanjang sungai, maka seharusnya kesabaran seluas samudra
Jika harapan seluas hamparan, maka seharusnya ikhtiar itu seluas langit
Jika pengorbanan sebesar bumi, maka seharusnya keihklasan itu seluas jagat raya
Walau jasad merasakan lelah, penat dan sakit, jalan menuju syurga masihlah sangat panjang
Lalu, mengapa mesti berputus asa, jika kau masih memiliki Allah??
Jangan pernah lupa, bahwa Allah selalu ada untukmu..
Keep Hamasah..!!!

pesan ini dapat dari Sari, keluarga Des Ark Revolution dan satu konsulat ^^ dikirim sama Sari 6 Januari 2011, lebih dari dua tahun lalu ternyata..

Saturday, October 20, 2012

Mengingat kematian

0


Tepat satu minggu yang lalu, 13 Oktober 2012, beberapa saat setelah waktu Maghrib, merupakan masa terakhir Nde’ (panggilan untuk Kakak dari Ibu, sepertinya diadaptasi dari Pakde) merasakan kehidupan fana dunia. Beliau wafat di usia sekitar 58 tahun, dengan meninggalkan seorang istri, seorang anak laki-laki, dan tiga orang anak perempuan. Beliau meninggal di rumah sakit, disaksikan oleh begitu banyak sanak family, bahkan anak dan cucu dari Kakek-Nenek saya yang banyak, hanya ada 1 orang cucu Kakek-Nenek yang tidak dapat melihat Nde terakhir kali.
Kematian adalah sebuah kepastian yang tak tertolak. Ini berlaku untuk saya, kamu, dia, mereka, kalian, yah kita semua. Hanya masalah waktu, kan? Kita tidak tau siapa yang akan menghadap Allah lebih dulu. Tua tak jadi jaminan akan berpulang duluan, karena yang muda pun banyak yang mendahului para tetua. Sehat tak jadi garansi hidup masih lama, karena yang sakit berpuluh tahun pun banyak yang didahului oleh yang hidupnya sehat. Waktu kematian adalah rahasia Allah yang terjaga.
Kematian orang lain yang meninggal selagi kita masih diberi kesempatan hidup adalah sebuah alarm, pengingat bahwa kita juga akan berpulang. Pulang ke kampung halaman, semua orang ingin bawa bekal banyak untuk sanak-keluarganya, maka begitu pula seharusnya setiap orang yang berpulang pada Tuhannya, ke tempat asal manusia itu terbuat. Maka, sudah sejauh mana persiapan kita? Sudah cukupkah bekal kita? Padahal kita bisa pulang kapan saja, entah setelah memiliki cucu, atau ketika baru memiliki anak satu, atau kapan tepatnya. Jadi, kapan kita akan bersiap?
Saat ada ajakan mencoba ini-itu, kesana-kemari, bersenang-senang dengan berbagai alasan, sesungguhnya orang yang diajak dan tidak mau itu bukan berarti tak mau bersenang-senang, bukan kelewat serius berpikir. Tapi orang itu mungkin tak ingin, saat Malaikat izrail menunaikan tugasnya, orang itu di tempat keramaian yang tidak memiliki nilai manfaat untuk masa hidupnya di akhirat. Orang itu juga tak mau, kalau kontrak hidupnya itu habis, disaat dia sedang melakukan kegiatan yang tak menambah berat timbangan amal baiknya di hari perhitungan amal, kelak. Orang itu juga tak sanggup, untuk membayangkan betapa dia akan kerepotan menjawab pertanyaan malaikat di dalam kubur nanti, jika kelak ibadahnya, amal, ilmunya tak cukup.
Setiap kematian, hendaknya mengingatkan kita..bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan, ditanyakan lah nanti
untuk apa titipan rizki dari Allah digunakan? untuk kemanfaatan atau pemuas keinginan duniawi semata
apakah setiap bagian jasad ini diberi makan dengan sumber yang halal ataukah haram?
apakah waktu yang diberikan oleh Allah semasa hidup digunakan untuk amalan yang baik, atau yang buruk? untuk yang berpahala, ataukah berdosa? untuk yang bermanfaat, ataukah bahaya?
Kematian juga pengingat.. bahwa seramai dan hingar-bingar apapun kehidupan kita di dunia, lihatlah… dikubur, kita hanya sendiri. Menjawab pertanyaan malaikat kubur hanya ditemani keimanan dan amal.
Mengingat mati adalah mengambil pelajaran, bahwa hakikatnya hidup hanya perlu kata ‘cukup’, bukan lebih. Tak perlulah bermewah dalam hidup kalau tujuannya untuk pemuas, karena sejatinya yang dibutuhkan diri hanya cukup. Semegah apapun rumah di dunia, rumah yang kekal ternyata hanya ‘cukup untuk berbaring satu badan’ saja.
_____
ditulis oleh saya, yang juga masih harus banyak berbekal

akad nikah, in english

2


obrolan random dua wanita single
a: B, B... akad nikah! akad nikah!
b: apaan sih? siapa yang nikah? aku ga ada undangan buat hari ini
a: ituu... akad nikah, bahasa inggrisnya apa?
b: oooh.. solemnization
a: apa? Solemnization?! Tuh, kan.. kalau urusan nikah, B emang paling jago!
b: rrr... -__-" *ngasah sendok, cari es krim*
note: solemnization itu arti sebetulnya sih upacara tradisi gitu, kata kamus :-p tapi banyak dipakai untuk mengistilahkan akad-nikah, terutama di Malaysia

Tuesday, August 14, 2012

Cheese Cake (No Bake)

0


Bulan puasa, di rumah, tiba-tiba Afina (teman satu kampus-beda jurusan, satu kost, dan satu daerah asal) nge-sms, ngajakin bikin kue di rumahnya. Kebetulan banget, kemarin abis ngikutin channel youtubenya Titli Nihaan nemu no-bake cheesecake (video resep disini). Jadi.. mau nyoba bikin no-bake cheesecake bareng Afin, :)
Cheesecake ini, sejujurnya.. tergolong kue mahal buat saya *ngelap air mata*. Gimana gak mahal kalau seloyang ukuran 22 cm yg saya sama Afin bikin ini, bermodalkan creamcheese+sourcream+buah yang..harganya bikin cengar-cengir subhanallah, haha
Untungnya, cheesecake no-bake ini tergolong kue yang tingkat keberhasilannya tinggi banget, hampir bisa dipastiin ga bakal gagal. Jadi, boleh banget dicoba meski buat pemula ^^
Bahan dan cara, liat di video itu aja lah yaa.. foto di postingan ini yang hasil saya sama afin, maaf kurang jelas, masalah lighting dan camera :D

Monday, June 18, 2012

Selamat tinggal, pacar tersayang

0

sore ini, gerimis menyapa aspal jalan di depan rumah,
rintiknya sampaikan salam kerinduan pada bumi
syahdu suaranya yang mengusap lara pada muka bumi,
apa kau juga rindu padaku? apakah gerimis dan  salam rindu ini darimu?
Here i'm, standing and waiting for you...

Hehe, kalimat itu kaya orang galau, ya? Oke, saya ngaku.. sedang galau, ditinggal oleh teman sehari-hari.
Kulitnya berwana gelap, tampilannya elok elegan, gagah namun tak jumawa. Badan yang proporsional, tak terlalu kurus tipis, tak juga terlalu gemuk kelebihan bobot. Teman yang setia menemani hari-hari perjuangan selama kuliah, juga pada malam-malam panjang perlu bergadang menyelesaikan deadline tugas. Teman yang tabah dan meneguhkan tatkala diri ini harus membagi pikiran, memutar otak, menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan. Teman belajar saat jiwa ini haus terhadap ilmu yang sangat jauh berbeda dari apa yang dipelajari di bangku kuliah, teman menelaah yang tangguh saat otak ini mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saintifik, religi, maupun polemik.

Kalaulah istilah "pacar itu diidentikkan dengan sosok yang setia menemani, ada kapanpun saat dibutuhkan, dan dapat diandalkan, maka teman saya ini bisa disebut sebagai pacar saya. Pacar saya ini memang tak punya hati dan perasaan, tapi seringkali dia begitu memahami saya karena dia cerdas dengan otak buatan. Teman saya ini memang tak punya lisan untuk bicara, tapi seringkali dia asik diajak cerita dan jadi pendengar setia. Teman saya ini tidak diciptakan dengan emosi, tapi bisa panas kalau kelamaan menunggu saya mikir dan gak ngobrol-ngobrol sama dia.

Tapi pacar saya ini sudah mati. Pacar saya ini mengorbankan diri saat saya harus memilih, bakti kepada nenek atau tetap bersamanya. Saya ingat detik-detik terakhir hidupnya. Hari itu, saya sedang bersamanya mengerjakan suatu tugas, dan tiba-tiba saya dipanggil oleh Bibi untuk menemani nenek ke rumah sakit. Karena tugas itu mendekati batas waktu pengumpulan, saya mengajaknya ikut menemani nenek ke rumah sakit, tanpa memberinya waktu untuk berkemas dan menggunakan pelindung. Sampai di rumah sakit, saat nenek duduk di kursi rodanya, saya bingung bagaimana dengan nasib pacar saya, bagaimana saya harus mendorong kursi roda sambil membawa pacar saya yang saat itu tidak dilindungi apa-apa, hanya dipegang tangan. Keputusan instan diambil, pacar saya menumpang kursi roda nenek, di bagian belakang, yang ternyata berisi air setinggi beberapa centimeter, dan saya baru menyadarinya ketika pacar saya keluar dari situ. Pacar saya mati, hari itu juga, hanya sinyal baterai yang masih tersisa.

Hei kamu, Aspire 4745G, tenangkah kamu di alam sana? Jasadmu di meja belajar masih kokoh hitam mengkilat, dan saya bingung harus diapakan. Bukankah kamu bilang mau menemani saya sampai wisuda? Sekarang baru selesai semester 6, kenapa sudah harus pergi? TA baru akan dimulai, perjuangan mahasiswa belum usai...

____
saya, yang galau memulai tingkat akhir tanpa pacar setia. Mau beli pacar baru minta ke orangtua kok rasanya gak enak, ya? Mau beli pake uang sendiri tapi lagi gak punya uang, hahaha...


Tuesday, May 8, 2012

Monday, April 30, 2012

Surat Lamaran

0

Percakapan amat sangat tidak serius dilakoni oleh 2 perempuan, biar gampang.. kita sebut A dan B aja lah, ya
A: mau ngapain? kok buru-buru? (unsure)
B: mau ngirim surat lamaran.. (gym)
A: *motong kalimat si B* eh.. jatah lo dilamar, bukan ngelamar.. (rofl)
B: ---- (doh)

Saturday, January 28, 2012

Thursday, January 19, 2012

kau pasti tau ini, Ibu...

0

Ibu, ingin aku mengatakan padamu, aku malu..
aku malu karna tak bisa menggariskan senyum bahagiamu seperti dulu,
tiap kali kau tanyakan bagaimana ujianku

Ibu, ingin aku bercerita padamu, aku lemah..
aku lemah saat hendak melafalkan huruf-huruf itu kepadamu,
tiap kali kau tanyakan bagaimana nilaiku

Ibu, ingin aku berbisik di hadapan daun telingamu, aku bersyukur..
aku bersyukur kau selalu tersenyum dan menyemangatiku dengan apresiasi itu,
tiap kali kau dengarkan cerita belajar kuliahku

Ibu, ingin aku berterus terang padamu, aku habis kata..
habis kata saat mendaftar kebaikan dan kasih sayang dirimu,
tiap kali aku ingin bercerita tentang indahnya menjadi darah dagingmu

___
Habis kata, ditulis sambil menikmati senja, dengan beberapa linangan air mata rindu,
Sungguh aku mencintaimu, ibu.. karena Allah ^^

Wednesday, November 23, 2011

Monday, November 7, 2011

Saturday, July 9, 2011

Saya suka...

0


  • teman saya: Emangnya kamu suka apa?
  • Saya: Suka liat matahari terbit dan terbenam apalagi kalau dari puncak gunung, suka rintik hujan dan pelangi habis hujan, suka kunang-kunang, dan suka bunga matahari :D
  • teman saya: banyak bener.. -___-"

Wednesday, June 8, 2011

MG09: Terimakasih, kawan!

0

MG 09 - Metalurgi ITB
Anyer, 8 Juni 2011
untukmu, kawan..
yang mengajarkanku uniknya perbedaan
yang menempaku untuk kuat bertahan
yang mengujiku dalam khazanah bernama istiqomah
yang menemani tawa, canda, tangis, keringat, dan duka,
        dalam kerasnya usaha menjadi dewasa
yang memberiku kesempatan mendengar dan didengar
yang membuat tiap kita paham, 
        bersatu dan menjadi kuat bukanlah karena kita seragam
melainkan karena kita menginginkan dan Tuhan memutuskan,
kita ada, untuk bersama ^^

Thursday, February 10, 2011

Thursday, December 23, 2010

My Heart is Full with You

0

My Heart is Full with You, My Family!
gatau kenapa, tiba-tiba adik saya punya ide bikin gambar hati dan penuh tulisan tangan. Terus, saya jadi terinspirasi bikin gambar ini, versi digitalnya.. hehe
didekasikan untuk keluarga saya tercinta: ibu, bapak, aa, dinda..
____
halah, gambar beginian pake dedicated to segala.. hahaha