Friday, October 24, 2014

Menyapa pembaca

0

Salaaam para pengunjung blog.. baik yang sengaja datang ataupun yang gak sengaja mampir, :D

Saya dinni, pengasuh blog dengan isi suka-suka ini. Setelah hampir setahun gak mengisi blog ini, saya dimotivasi (iya gitu dimotivasi? haha) untuk menulis lagi oleh seorang pembaca blog ini, yang kemudian mengirimkan permintaan pertemanan pada saya di FB. Beliau orang yang ramah dan asik, jadi rasanya ga ada salahnya mengikuti saran beliau untuk mulai membuat postingan blog lagi. "Hai kamu, terimakasiiiiiih ;) " Meski.. yaa.. tulisan ini mungkin gak dibaca oleh yang bersangkutan. Kaan.. apalah saya ini, hanya bubuk bumbu mie instan yang menempel di bungkusnya, masa mengharap ada pembaca. hiks hiks (mulai lebai).

Beberapa teman ada yang menanyakan kenapa postingan saya selama hampir setahun ini sepi.. jawabannya karena saya sedang sibuk mencari kesibukan :p. Awalnya saya mau buat cerita tentang perjalanan umroh di awal tahun 2014 ini, tapi ada banyak hal yang saya pikirkan, takut nanti begini, begitu, jadi saya putuskan itu ditulis nanti saja kapan-kapan kalau saya sudah kepikiran cara cerita yang baiknya gimana :D. Kesibukan selama gak nulis disini adalah kerja lab untuk menyelesaikan penelitian tesis magister saya, kalau ada yang berkenan mendoakan saya diam-diam, saya ucapkan banyaaaaaak terimakasih, semoga Allah membalas kebaikan yang mendoakan dengan kebaikan-kebaikan dan kemudahan urusan.

Beberapa postingan sekarang ini kemungkinan berbentuk tulisan random, posting foto tanaman di kebun belakang rumah, atau foto makanan hasil eksperimen saya di dapur, yang bagi sebagian teman FB pasti pernah melihatnya di laman profil facebook saya. Yah.. masih suka-suka lah pokonya.

Semoga hari-hari yang kita jalani bermanfaat, dan semoga kita selalu semangat meniti jalan menuju keridhoan Allah subhanahu wa ta'ala.

assalamu'alaikum warohmatullah

Thursday, December 26, 2013

Dinni, Foto Kamu Mana?

0

kali ini saya mau cerita pengalaman pribadi yang terulang berkali-kali. Penting untuk dibagi dan diketahui orang-orang? Saya gak yakin sih, Tapi, yaa.. mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan teman-teman dunia maya yang suka nanya "kamu itu yang mana?" atau pertanyaan lain yang intinya kepingin tau, rupa saya seperti apa. Dan inilah dia... eng ing eng...

Teman-teman yang sudah berteman di facebook dengan saya sebelum juli 2010 sepertinya tahu bahwa saya dulu pernah menggunakan foto profil yang memang benar foto saya - ada wajah saya. Tapi kemudian perlahan foto saya menghilang dari pandangan teman-teman.. baik di proteksi ataupun saya delete.

Bermula di tahun 2010 (sejatinya saya lupa mulai kapan, tapi kayanya sih bener tahun 2010), saat itu masih hangat-hangatnya tren tontonan film bioskop, novel, atau sinetron yang menamplkan tokoh atau cerita dengan label islami. Waktu saya lagi log in FB, tetiba di bagian ad atau promoted page muncul fan-page seorang aktris yang mengenakan hijab/khimar. Iseng, saya buka link fan-page tersebut dan melihat ada banyak (puluhan) foto aktris tersebut (yaiyalah, fan page aktris itu penuhnya ya sama fotonya, masa sama foto saya, hahaha). Foto-foto disitu ada yang dipost oleh pembuat page, ada juga yang diupload oleh para likers atau jempolers (maksudnya yang nge-like, gituh).

Bukan, bukan jumlah foto, performance, pose, apalagi fashion aktris tersebut yang menjadi perhatian saya. Saya saat itu hanya sekedar ingin tahu seperti apa fan-page seorang aktris karena saya hanya menjempoli fan-page penulis atau page dari beberapa buku, belum tau page selebriti. Maka saya buka beberapa foto di page itu, dan terdiam memandang foto-foto tersebut.

Saya tidak bisa berbohong bahwa sebagai wanita pun saya terpana dengan kecantikan mbak aktris berhijab ini. Tapi sungguh, diamnya saya saat itu karena terhenyak, dan menyadari ada perasaan dari lubuk hati saya yang mengatakan bahwa ada yang gak oke, pada page tersebut, juga pada saya.

Ucapan saya saat melihat foto itu yang dijempoli dan dikomentari puluhan hingga ratusan penggemarnya (saya gak ingat, mungkin ada yang dijempoli ribuan orang juga?) adalah kalimat istighfar, "astagfirullah". Bukan, bukan karena saya lebih suci, bukan pula karena foto tersebut menurut saya jelek. Bukan karena fisik, karena pun pakaian, akhlak, dan amal saya mungkin tak sebaik mbak aktris ini. Tapi karena ketika melihat komentar di foto itu, melihat jempolers di foto itu... membuat saya sadar bahwa ada yang belum benar pada fesbuk saya. Kalimat komentar pada foto-foto itu adalah kalimat thayyibah, kalimat yang baik, bahkan banyak yang isinya pujian kepada Allah seperti "subhanallah", "masya Allah", "alhamdulillah".

Tapi..

Tapi banyak dari jempolers dan komentator dari foto-foto itu adalah kaum pria, ya: LELAKI. Entah lelaki tipe yang senang datang ke pengajian atau lelaki yang mana saya gak tau. Bahkan ada di dalam salah satu komentar yang tertulis mengerikan: mimpi bertemu sang aktris, terus kepikiran sang aktris, berharap pasangannya bisa dipoles seperti sang aktris. Saya gak nemu kata lain selain kata ini: NGERI. Saya merasa ngeri mengetahui ada laki-laki yang memandang foto sang aktris sambil berangan-angan entah apapun angan-angannya. Saya ngeri mengetahui ada laki-laki diantara komentator itu yang tidak khusyu sholatnya karena pikirannya teralihkan dengan mbak aktris ini. Saya ngeri mendapati ada orang yang memajang foto mbak aktris ini di wallpaper desktopnya, di hape nya, bahkan mengoleksi foto-fotonya. Aaaaa.. pokoknya saya ngeri menyadari bahwa ada sholat-sholat yang tak khusyu karena foto itu, ada doa-doa yang akhirnya terpanjat dengan hati yang lalai karena foto itu, ada laki-laki yang berandai-andai padahal andai-andai nya itu tak dibenarkan agama karena foto itu.

Sedari dulu saya berfikir bahwa foto saya itu "aman" untuk dilihat karena saya mengenakan khimar (kerudung) sehingga aurat sudah tertutup. Tapi melihat ini, mbak aktris dengan aurat tertutup dan pose foto gak macem-macem pun menggemparkan laki-laki, maka foto saya tak aman. Saya juga pernah berfikir, karena saya bukan tokoh terkenal, saya juga bukan orang yang punya penggemar apalagi secret admirer, (yah gampangnya, belum ada orang yang kesengsem sama saya dengan sekali lihat dari wajah) maka foto saya aman. Tapi saya tersadar, saya sering mendapati orang-orang berkomentar secara lisan (gak dikomen di FB nya) terhadap foto yang orang lain upload di fb dengan kalimat yang mencemooh fisiknya, padahal sungguh fisik itu adalah ciptaan Allah, bukan keinginan pemilik rupa tersebut. Maka saya tak ingin, nantinya ada orang yang terhipnotis melihat foto saya (okeh, kalimat ini lebay, hehehe) ataupun menghina rupa saya ciptaan Allah ini karena foto saya.

Cukuplah orang yang bertemu saya di dunia nyata yang mengetahui rupa saya :)
Meski.. saya pun tak memungkiri kadang saya tetap foto sama teman-teman dekat untuk kenang-kenangan: acara wisuda, sidang sarjana, reuni, dll. Saya mengakui, sebelum kejadian ini, saya termasuk banci kamera :D Terkadang sulit minta teman saya ini untuk tidak mengupload foto saya, atau minta untuk tidak di tag sekalian. Yah, setidaknya, saya berproses, dan biar Allah menilai usaha saya ini untuk menutup satu pintu datangnya pujian atau cemoohan yang saya tidak siap untuk tanggulangi :)

Allahu musta'aan

salam,
dinni

Catatan Kerinduan

0

kerinduan itu sungguh tak bisa diobati selain dengan perjumpaan,
dan teknologi yang ada sesungguhnya bagiku hanya memperpanjang kesabaran untuk memupuk rasa rindu itu,
dan saat rindu itu semakin besar, akan begitu banyak kalimat-kalimat doa membumbung indah teucap dengan keteguhan hati, dilayangkan untuk-Nya pada 'arsy Nya yang agung..

kerinduan kami pada tempat itu, bukanlah karena kecintaan pada dunia-Nya, dan Dia sungguh Maha Mengetahui akan hal itu. Maka  dalam diam kami berdoa, di waktu yang mustajab kami berdoa, dalam susah kami berdoa, harap kami pada kemurahan hati-Nya agar Ia dengan sifatnya Yang Maha Pemurah membukakan jalan bagi kami mengunjungi tempat itu...
al-haramain, dan menjawab panggilan-Nya dengan sahutan yang indah... "Labbaik Allahumma Labbaik.."

Thursday, November 21, 2013

Pengadilan Jeruk

0

Pernah makan jeruk, kan?
Ada jeruk yang terlihat begitu manis dengan warna kulit jingga keemasan, rasanya manis tak mengecewakan. Jeruk lainnya berkulit hijau meski telah tua atau ranum, dan rasanya kecut masam tak enak ditelan. Tapi, ada pula jeruk berkulit hijau yang rasanya manis menyegarkan.

Sama seperti halnya jeruk shantang atau jeruk kecil-kecil yang belakangan mudah kita temui di pasar-pasar penjaja buah. Di Indonesia, masyarakat kita mengenal dua jenis jeruk shantang. Jenis yang pertama dikenal adalah shantang yang penampakannya mirip jeruk mandarin namun ukurannya mini: berkulit tipis, warna jingga kemerahan. Jeruk shantang jenis kedua yang biasa ditemui di penjual buah biasa disebut shantang madu atau shantang daun. Shantang madu/daun ini penampilannya mirip jeruk siem atau keprok dalam ukuran mini: kulit hijau tua dengan sedikit gradasi jingga bila ranum, daging buah berwarna kuning atau jingga, dan kandungan air lebih banyak dari shantang yang mirip mandarin. Rasanya shantang madu ini sesuai namanya, super manis nyaris tanpa rasa masam.

bagi yang menginginkan jeruk shantang manis tapi belum mengetahui jeruk shantang madu, mungkin ketika disuruh memilih shantang mandarin dan shantang madu, orang tersebut akan memilih shantang mandarin karena penampilannya yang menjanjikan: warna jingga khas jeruk manis ranum. Tapi buat yang mendambakan jeruk manis dan berair dan sudah mengetahui kedua jenis shantang ini, tentulah akan memilih shantang madu.

dan, begitulah hidup ini. Seringkali kita melihat dengan sudut pandang 'umumnya' yang akhirnya seperti mengadili. Kita mengadili jeruk shantang madu yang berkulit hijau sebagai jeruk yang masam tanpa pernah mencobanya, mengetahui isi di dalamnya, dan merasakannya. Kita terlanjur terpikat pada hal umum yang dipegang oleh banyak orang, "katanya jeruk yang manis itu kulitnya oren", "biasanya jeruk yang matang itu begini, begitu, seperti ini, seperti itu".

Lain lubuk, lian ikannya. Lain ladang, lain pula jeruknya. Begitulah kita, manusia, seringkali memberikan penilaian atau labeling pada orang lain, tanpa pernah benar-benar berinteraksi, mencari tahu, siapa dan bagaimana sesungguhnya orang yang dikatakan baik atau buruk oleh orang-orang ini. Benarlah pepatah berbahasa inggris yang menyebutkan jangan menilai sebuah buku dari halaman muka nya. Karena jeruk yang hijau, tak selamanya masam.


Friday, October 4, 2013